Catatan dari Puncak Singgalang

-Tulisan ini juga dimuat di Harian Singgalang edisi Minggu, 1 April 2012.-

Malam semakin pekat mengeliat di sepanjang jalan Padang-Bukittinggi, bergulir perlahan mendekati tengah malam. Jalanan tampak hitam dan kelam, beruntung cuaca cerah malam ini sehingga sinar bulan dan bintang-bintang sedikit membantu menerangi jalan yang kami lalui. Ya, malam ini kami sedang dalam perjalanan menuju Gunung Singgalang untuk melakukan pendakian. Tak seperti biasanya, kali ini kami berangkat di malam hari karena beberapa jam sebelumnya harus menghadiri acara pernikahan dari kakak salah seorang teman kami. Sebelumnya, pada sore hari kami berkumpul di sekretariat KCA-LH Rafflesia dan dilanjutkan packing di sekretariat Mapala Svarna Dvipa Ungu. Dalam perjalanan kali ini kami berjumlah 8 orang dengan mengendarai 4 buah sepeda motor secara berpasangan. Beberapa diantara kami merupakan anggota Forkompa-UA (Forum Komunikasi Pecinta Alam Universitas Andalas), yaitu Yosep dari Mapala Svarna Dvipa Ungu (Mapala Fakultas Peternakan), Hendra dari KCA-LH Rafflesia (Mapala FMIPA), Ucok dari Green Justice (Mapala Fakultas Hukum), Ari dari Mapastra (Mapala Fakultas Sastra) dan saya sendiri dari Paitua-MTU (Mapala Fakultas Teknik). Ditambah Revo dari Blaise Pascal (Mapala UPI-YPTK) dan dua simpatisan yaitu Si Og dan Ihsan. Pendakian ini sendiri kami agendakan sebagai ajang silaturahmi antar sesama penggiat alam bebas (baca: Mapala), selain itu juga untuk menjernihkan pikiran karena selama ini tercurah untuk belajar, membuat tugas dan ujian di bangku perkuliahan. Pendakian kami lakukan pada hari Sabtu-Senin, 21-23 Januari 2012.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam akhirnya kami tiba di Nagari Koto Baru, tepatnya di sebuah Masjid yang terletak tak jauh dari persimpangan jalan menuju Gunung Singgalang. Kami beristirahat selama setengah jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembali tepat pukul 01.00 WIB menuju daerah Tower Singgalang melewati Nagari Pandai Sikek–yang terkenal dengan tenunan khas kainnya–dengan masih mengendarai sepeda motor. Trek awal masih berupa jalan aspal hingga akhirnya ketika pemukiman penduduk sudah tidak kami jumpai lagi, jalanan mulai dipenuhi dengan kerikil dan batu-batu tajam dan di samping kiri dan kanannya terdapat ladang pertanian penduduk. Treknya pun mulai mendaki dan berkelok-kelok. Dari Nagari Koto Baru diperlukan waktu 30 menit untuk sampai ke Tower. Sesampainya di sana kami menjumpai sebuah pondok yang dindingnya terbuat dari papan. Pondok tersebut cukup luas di dalamnya, selain digunakan sebagi tempat tidur juga digunakan sebagai tempat parkir sepeda motor. Total ada 13 sepeda motor, 8 diparkir di dalam dan sisanya di luar. Di daerah Tower Singgalang ini juga terdapat beberapa stasiun pemancar televisi, diantaranya TVRI, RCTI dan Metro TV.

Kami tak segera tidur, beberapa anggota ada yang membuat kopi hangat sementara saya dan Ari duduk di luar pondok menikmati pemandangan malam di bawah sana. Tampak lampu-lampu berkelip di tengah hening suasana malam. Bintang-bintang pun tak segan menampakkan wajahnya, seolah tersenyum ceria kepada kami. Di tempat ini sudah banyak teman-teman dari organisasi lain yang datang lebih dulu, ada yang dari Mapala, KPA, Pramuka maupun perorangan. Di antara mereka ada yang sampai ke tempat ini berjalan kaki dari ada juga yang mengendarai sepeda motor seperti kami. Total ada kira-kira 30 pendaki yang menginap di pondok malam ini. Cukup lama kami larut dalam senda-gurau sebelum akhirnya kantuk menggugurkan kebersamaan kami.

Gunung Singgalang (kanan) dari Cadas Marapi

Gunung Singgalang (2877 mdpl) sendiri merupakan bagian dari 3 puncak gunung di Sumatera Barat yang dikenal dengan puncak Tri Arga. Terletak di Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat. Gunung ini mempunyai telaga di puncaknya yang merupakan bekas kawah, telaga tersebut dinamai Telaga Dewi. Selain telaga Dewi juga terdapat Telaga Kumbang yang terletak di antara puncak Singgalang dan Tandikek, tepatnya di leher Gunung Singgalang. Selain itu Gunung Singgalang sudah tidak aktif lagi dan wilayahnya ditutupi hutan hujan tropis yang mana sangat lembab di daerah puncak karena kandungan air yang banyak.

***

Pagi-pagi sekali kami sudah terjaga begitu juga dengan teman-teman yang lain. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, mulai dari membuat sarapan dan teh hangat hingga packing perlengkapan. Pukul 08.58 WIB kami memulai perjalanan menuju puncak. Di awal pendakian ini vegetasi yang paling dominan yaitu Pimpiang (sejenis bambu yang menyerupai rumput). Di sepanjang jalan yang kami lalui terdapat tiang-tiang listrik dengan kabel yang menjuntai di atasnya, kabel tersebut menghubungkan stasiun yang ada di tower awal pendakian dengan tower yang ada di pucak Singgalang yang bisa dijadikan panduan untuk sampai ke puncak. Selain terdapat tiang-tiang listrik, jalan yang kami lalui juga sangat jelas sampai ke puncak. Kira-kira satu jam kemudian kami sampai di Shelter I. Kami beristirahat di sebuah tempat yang agak datar tepat di sekeliling jalan. Terdapat sumber air di tempat ini, untuk mengambilnya kita harus turun di sebelah kiri kira-kira 30 m dari jalan. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali. Tak berapa jauh dari Shelter I rimbunnya hutan Pimpiang sudah tidak kami jumpai. Tepat pukul 11.08 WIB kami tiba di Shelter II, sumber air berupa sungai kecil (seperti selokan) yang melintang di jalan. Airnya cukup bersih, biasanya di musim kemarau airnya akan kering. Cukup lama kami beristirahat di tempat ini, kira-kira 20 menit berlalu pendakian kami lanjutkan kembali.

Jalur Pendakian di Hutan Pimpiang

Istirahat sejenak di Shelter I

Shelter II

Pukul 12.32 WIB kami tiba di Shleter III. Dibandingkan 2 Shelter sebelumnya, tempat ini cukup luas. Cukup untuk mendirikan 6 tenda dengan kapasitas isi 5 orang. Sumber air yang berupa aliran sungai kecil berada kira-kra 50 m dari jalan menuju arah bawah (sebelah kiri jalan). Airnya sangat jernih dan suara gemericiknya mampu membuat pikiran fresh kembali. Beberapa dari kami segera mengambil air di sungai tersebut untuk kemudian memasak untuk makan siang. Tempat ini sangat terbuka karena ada beberapa pohon yang tumbang, sehingga udara di sini sangat dingin karena badai sering datang menghampiri kami. Sembari menunggu nasi masak, saya mencari ranting-ranting kecil untuk membuat api unggun, lumayan untuk mengusir dingin yang begitu menyengat. Akhirnya makan siang pun tersaji, tanpa basa-basi kami segera menyantapnya. Sebelum melanjutkan perjalanan kami melakukan sweeping sampah yang ada di tempat tersebut. Cukup lama juga kami berada di tempat ini sebelum akhirnya bertolak menuju puncak tepat pukul 15.00 WIB.

Suasana di Shelter III

Selama perjalanan tim terpisah-pisah. Ihsan yang berjalan lambat lebih dulu meninggalkan Shelter III bersama Si Og. Namun akhirnya saya dan Ari berhasil menyusul mereka. Sementara yang lain masih di belakang. Ketika sampai di ketinggian 2622 mdpl terdapat persimpangan jalan, keduanya sama-sama menuju puncak. Sebelah kiri merupakan jalur baru dan lebih cepat sementara di sebelah kanan adalah jalur lama yang tetap dilintasi oleh tiang-tiang listrik dan terdapat sumber air. Kami memilih jalur sebelah kiri.

Sebelum sampai di puncak kami disuguhi pemandangan cadas Singgalang yang telah semak dengan tumbuhan dan pepohonan kecil dan sesekali kita akan menjumpai bunga edelweis walaupun sangat jarang sekali ditemui dan memerlukan mata yang jeli untuk menemukannya. Kami tak berlama-lama di sini karena segera ingin mencapai puncak. Dari awal cadas, trek menuju puncak tetap mendaki. Di tengah perjalananan terdapat sebuah tugu yang dinamakan Tugu Galapagos. Tugu ini di buat sebagai monumen akan hilangnya dua orang Siswa Pencinta Alam (Sispala) Galapagos SMA 1 Padang pada tahun 1988. Dari tempat ini tampak view Gunung Merapi, Danau Singkarak dan Kota Bukittinggi. Setelah menempuh perjalanan selama 30 dari awal cadas, kami memasuki hutan dengan pohonnya yang rimbun dengan jalanan yang lembab dan sedikit basah. Trek di daerah ini datar dan hanya perlu waktu 15 menit untuk sampai ke tepi telaga Dewi. Tepat pukul 17.00 WIB akhirnya kami tiba juga di Puncak Gunung Singgalang, tepatnya di tepi Telaga Dewi (2.762 mdpl). Sebuah Telaga bekas kawah yang cantik dengan airnya yang jernih dan beriak ditiup angin. Di sekitar telaga ini kita juga menemui hutan lumut yang sangat lebat dan ada beberapa tumbuhan kantong semar. Segera kami mendirikan tenda dan mulai untuk memasak.

Trek mendaki di daerah Cadas Singgalang

Berfoto di Tugu Galapagos

Di sekitar Telaga Dewi sudah banyak tenda dari teman-teman lain yang berdiri, ada yang tepat di tepi telaga, beberapa yang lain lebih memilih untuk menjauh telaga dan berlindung di balik pohon untuk menghindari badai. Udara begitu terasa sangat dingin sekali, apalagi jika kita menyentuh air yang ada di telaga. Badai juga tiada henti menerpa kami dengan kencangnya. Ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa membeku, saya segera memakai sarung tangan dan kaus kaki untuk mengatasinya. Sementara yang lain memasak, saya mencari kegiatan lain untuk menghangatkan badan. Dibantu Si Og saya mencari ranting-ranting pohon yang kering di sekitar telaga. Kemudian segera menghidupkan api tak jauh dari tenda. Setelah api mulai membesar segera saya panggil Ihsan yang mulai kedinginan untuk mendekat ke api agar suhu tubuhnya meningkat dan tidak terserang hipotermia.

Senja mulai menjelang, saya mendekat ke tepi Telaga Dewi. Memandang hamparan telaga dengan warna coklatnya yang jernih, tak terlihat ujung telaga karena kabut sangat tebal. Sementara tak terlihat para pendaki lain di tepi telaga, semua masuk ke dalam tenda untuk menghindari udara yang sangat begitu dingin. Sesekali saya menghela nafas panjang, mencoba menyembunyikan dingin yang terasa. Saya segera mengambil air Wudhu’ dari telaga dan kemudian Sholat Maghrib.

Usai makan malam kami tak langsung tidur. Saya, Ihsan dan Si Og setia mengelilingi api unggun yang nyala apinya semakin membesar. Sementara Revo dan Ucok pergi ke tenda sebelah untuk sekedar menjalin silaturahmi dengan teman-teman yang lain dalam obrolan hangat. Yosep, Ari dan Hendra kembali ke dalam tenda untuk memasak air kemudian membuat teh dan kopi hangat untuk kami. Badai masih tak henti-hentinya menghampiri kami yang berada di telaga Dewi, sementara cuaca di langit begitu cerah. Tampak bintang-bintang berjejer meski tidak rapi tapi kami cukup menikmatinya. Suasana seperti inilah yang membuat kami selalu rindu untuk ke lapangan kembali, cuaca cerah dan keakraban yang terbalut hangat di sekeliling api unggun yang terus menyala.

***

Cericit burung di pagi hari membangunkan Hendra dan saya, sementara Ucok dan Si Og masih terlelap. Di tenda sebelah, Yosep, Ari, Revo dan Ihsan belum bangun. Udara masih terasa dingin pagi ini karena mentari belum memancarkan cahayanya di Telaga Dewi ini, sinarnya masih terhalang kabut yang belum juga beranjak. Hendra segera mengambil air dari telaga sementara aku menghidupkan Trangia. Tak berapa lama minuman hangat di pagi ini pun tersajikan. Sengaja kudekatkan aromanya ke pitu masuk tenda agar yang lain segera bangun.

Telaga Dewi

Matahari semakin meninggi, perlahan dingin semakin hilang meski tak sepenuhnya. Tampak beberapa tenda dari teman-teman yang lain sudah mulai dibuka, sepertinya mereka bersiap-siap untuk turun. Sementara ada juga yang masih tak bergeming, masih menikmati panorama Telaga Dewi yang tersaji indah. Telaga Dewi merupakan bagian dari puncak Gunung Singgalang, sedangkan puncak tertinggi berada agak jauh dari Telaga. Untuk mencapai puncak tertinggi diperlukan waktu 25 menit. Diantara kami sudah ada yang ke puncak pada pendakian sebelumnya, namun ada juga yang belum pernah ke sana. Saya sendiri sudah dua kali melakukan pendakian di Gunung Singgalang ini, tapi di pendakian pertama belum mencapai puncak tertinggi. Jadilah kali ini saya berhasrat untuk dapat pergi ke sana bersama Si Og dan Ihsan yang juga belum pernah sampai ke sana. Trek yang harus dilalui tidaklah sulit, cukup mengikuti kabel-kebel tiang listrik yang terhubung dengan tower yang ada di puncak. Jalur awal menyisir tepi telaga, tak berapa lama mulai menjauh telaga dengan pendakian kecil.

Puncak tertinggi Singgalang

Di puncak tertinggi ini terdapat banyak sekali tower yang merupakan milik Polda Sumbar sebagai tower komunikasi untuk menghubungkan seluruh wilayah Sumbar dan dengan propinsi sekitarnya. Selain itu terdapat pula tower dari beberapa instansi dan stasiun televisi. Di tempat ini sangat tidak ideal untuk mendirikan tenda karena nyaris tidak ada tempat yang datar. Namun pemandangan dari sini cukup terbuka, tampak view Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang dengan Gunung Marapi sebagai latarnya, serta pemandangan Ngarai Sianok.

View dari Puncak Singgalang

Selain dari Koto Baru, pendakian ke Gunung Singgalang ini juga dapat dilakukan dari Kecamatan Padang Lua di mana treknya langsung menuju tempat ini (tidak melewati Telaga Dewi). Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak kami segera turun menuju tenda yang ada di Telaga Dewi.

Menjelang siang para pendaki satu persatu mulai meninggalkan Telaga Dewi untuk turun. Total ada lebih dari 50 orang pendaki yang tadi malam ngecamp di tempat ini dan kini hanya tinggal kami yang masih di sini. Kami berencana turun ketika usai makan siang. Ketika kami sedang asyik masak datang para pendaki dari Bukittinggi kira-kira 6 orang. Dan ketika kami packing datang pendaki lain dari Mapala UIR berjumlah 8 orang, kami sempat mengobrol sebentar dengan mereka sebelum turun. Akhirnya tepat pukul 14.06 WIB kami turun Gunung Singgalang.

Foto bersama rekan-rekan dari Mapala UIR dengan latar Telaga Dewi

Selama perjalanan turun kami beriring-iringan dengan teman-teman dari Mapala Vivo-ATIP dan juga rekan-rekan dari gabungan Pramuka Unand dan UNP. Dalam perjalanan turun ini kami sangat santai dan tiba di Tower sekitar jam 5 sore. Tampak di bawah view rumah-rumah penduduk dengan warna dominan merah yang begitu mencolok. Kami lantas turun menuju Masjid yang terletak di dekat simpang masuk untuk bersih-bersih dan kemudian Sholat Maghrib. Akhirnya tepat pukul 19.11 WIB kami start menuju Padang, meluncur di tengah gelapnya malam.

Sungguh, pesona Gunung Singgalang tak pernah pudar. Meski sudah berkali-kali mendaki, rasanya ingin ke sana sekali lagi. Menyaksikan view dari Cadas maupun dari puncak, ditambah pesona Telaga Dewi yang selau menawarkan kesejukan dan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya, membuat tempat ini selalu mendatangkan kerinduan bagi yang pernah mendaki Gunung Singgalang. Mungkin nanti kami akan kembali,…

Video :

Telaga Dewi

Puncak Tertinggi

8 thoughts on “Catatan dari Puncak Singgalang

  1. Saya rencana hari sbtu bsok mau mendaki singgalang, dan baru perdana juga .
    Kalau boleh tau apa aja larangan yg gak boleh selama mendaki bro ??
    maklum baru perdana ndaki gunung, Gak tau . hehehe :D

    • Ya seperti biasa aja bro.
      ‘Gak boleh sombong & bicara ‘kotor’. Niatnya dibenerin, misalnya mendaki bukan buat maksiat. Dan tetep jaga kearifan lokal…

      Dilarang ngambil sesuatu kecuali foto.
      ‘Gak boleh ninggalin sesuatu kecuali jejak kaki.
      ‘Gak boleh membunuh kecuali waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s