Setangkai Bunga

Tak terasa sudah enam bulan berlalu semenjak terakhir aku pulang ke rumah, akhirnya malam ini kuputuskan juga untuk pulang kampung. Sebenarnya jika tidak ada keperluan yang benar-benar penting aku enggan sekali pulang, selain semakin sedikitnya teman sebaya di kampung karena telah berkeluarga atau yang pergi merantau juga karena aku merasa tidak enak jika ada tetangga atau teman ayahku yang menanyakan kapan aku wisuda. Seolah-olah kuliah itu harus empat tahun dan jadi PNS. Terlebih jika ada mahasiswa baik dari kampungku maupun dari desa tetangga yang sudah menamatkan studinya, maka semakin pedas saja telingaku karena selalu dijadikan bahan perbandingan. Tanpa tahu bahwa kuliah itu memang complicated. Tapi pada akhirnya di liburan semester ini aku memilih untuk pulang, keinginanku untuk stay di Padang pudar karena aku juga kangen dengan keluargaku.

Ingin rasanya aku segera memejamkan mata, selain karena tadi malam aku begadang sorenya kusempatkan pula bermain futsal bersama teman-temanku. Tapi aku urungkan niat tersebut karena harus segera pergi ke terminal. Usai Sholat Maghrib aku bergegas menuju daerah Cengkeh untuk membeli tiket karena bus yang akan kutumpangi berangkat pukul 8 malam.

***

Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya bus yang aku tunggu tiba dan para penumpang pun segera naik dan bus pun berangkat. Dari sound system bus terdengar lagu ‘Walau Habis Terang’, aku menikmatinya. Dalam lamunan aku menatap keluar, kulihat hujan mulai menyemburkan titik-titik air di jendela kaca. Tiba-tiba pikiranku tertuju pada sosok gadis ayu yang dulu pernah menemani hari-hariku. Aku mencoba ‘tuk melupakan bayang wajahnya, tapi tak bisa. Hingga akhirnya aku masuk ke dalam kenangan yang dulu pernah terukir indah di kehidupanku, kenangan yang tentunya akan terus terpatri abadi di hatiku.

Namanya Ratna, gadis ayu yang kukenal beberapa tahun lalu dan masih kukenal hingga saat ini. Tutur katanya lembut dan sopan, memiliki dua lesung pipit di pipinya dan akan tampak jelas ketika dia tertawa serta rambut hitam yang lurus tergerai hingga ke bahunya. Awal pertemuanku dengan Ratna bermula ketika aku duduk di kelas 3 SMA dan waktu itu dia baru saja tiba dari Solo untuk melanjutkan sekolah di tempat yang sama denganku, dia masih kelas satu waktu itu. Rumahku yang masuk dalam wilayah kabupaten Sarolangun berdekatan dengan rumah ayah Ratna dan keluarga kami saling mengenal dengan baik.

Dari TK hingga kelas 1 SMA Ratna menempuh studinya di kota Solo dan tinggal dengan neneknya. Sesekali ayah dan ibunya datang ke Solo untuk menemuinya dan bersilaturahmi dengan keluarga yang lain. Tapi karena rasa rindu yang terus menghinggapi perasaan kedua orang tuanya akhirnya Ratna diboyong ke Sarolangun, terlebih neneknya sekarang tinggal dengan keluarga pamannya. Sementara aku dari kecil hingga tamat SMA sudah di Sarolangun mengikuti orang tuaku yang memilih menetap di sana.

Karena keluarga kami saling mengenal dengan baik, ayah Ratna mempercayakan semua urusan kepindahan sekolah Ratna kepadaku. Dan ketika sekolah sudah dimulai Ratna pun ‘dititipkan’ kepadaku, tiap pagi aku selalu membonceng Ratna berangkat sekolah, pun ketika pulang. Awalnya tidak terjadi apa-apa antara aku dan Ratna dan tak menyangka akan serumit dan sepahit ini.

***

Kulirik arloji di tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul 12.15 tengah malam. Bus yang kutumpangi berhenti di sebuah rumah makan di daerah Dharmasraya. Sekitar setengah jam berlalu bus pun melanjutkan perjalanan. Perlahan hujan mulai berhenti. Di dalam bus kucoba ‘tuk memejamkan mataku tapi tak bisa, namun akhirnya mataku menyerah juga. Aku tertidur pulas dan ketika terjaga aku telah sampai di Bangko, aku segera turun untuk mencari mini bus tujuan Sarolangun karena bus yang aku tumpangi hanya sebatas kota Bangko. Belum sempat aku turun, seorang pria menawarkan jasanya kepadaku.

“Sarolangun, dik?” Aku tak menjawab, hanya mengangguk pelan dan langsung menuju mini bus yang ditawarkan pria tadi. Kulihat pria tersebut menawarkan hal yang sama pada penumpang lain di belakangku. Aku masih mengantuk, kulanjutkan tidurku di dalam minibus. Kira-kira setengah jam berlalu kurasakan hpku berdering, kurogoh saku kiriku dan kulihat ada sebuah pesan masuk, dari ibuku. ‘Udah sampai mana, Ndra?’ Segera kubalas. ‘Lagi di jalan bentar lagi juga sampai, Bu’. Tak kulanjutkan tidurku, kuarahkan pandangan ke luar jendela. Hmm, enam bulan berlalu ternyata banyak yang berubah. Tampak lahan yang semula adalah perkebunan karet kini tampak gundul dan yang tampak hanya sehamparan lahan yang tak berpohon, mungkin akan didirikan perumahan di sana. Ada juga yang telah berganti tanaman menjadi perkebunan sawit. Tapi masih ada juga yang tetap tak berganti tanaman, pepohonan karet masih terhampar luas sepanjang jalan. Sedikit membuka mataku untuk menikmatinya.

“Pinggir bang”, ujarku kepada sopir minibus begitu kulihat simpang jalan kecil menuju rumahku. Aku segera turun setelah sebelumnya membayar ongkos. Kulihat ayah, ibu dan juga adikku telah menunggu di beranda rumah. Kebetulan hari Minggu jadi adikku yang masih kelas 6 SD tidak berangkat ke sekolah, sedangkan ayah dan ibu memang sengaja tidak pergi ke kebun karena menunggu kedatanganku. Aku langsung mencium tangan mereka, kecuali adikku dia yang mencium tanganku.

“Sana langsung ke dapur, ibu sudah siapkan sarapan untukmu,” ujar ibuku yang langsung kuturuti perintahnya, adikku menguntit di belakang sambil menanyakan apakah ada game baru di hpku. Sementara ayah dan ibu masih di beranda.

Usai sarapan aku ke ruang tengah untuk menonton tv, tapi tak lama karena setelahnya aku tertidur karena capek dan masih mengantuk. Ketika bangun kudapati hari telah pukul 11 siang. Kulihat Ibu sedang mencuci piring di dapur.

“Ayah di mana Bu?” tanyaku pada Ibu.

“Pergi gotong-royong di rumah Pak Wardiman, kamu nggak ke sana?” jawab Ibu sambil meletakkan piring-piring yang telah bersih ke rak piring.

“Ada acara apa Bu, bukannya Adi baru disunat beberapa bulan yang lalu?”

“Lho, kamu belum tahu tho? Ratna ‘kan sebentar lagi mau menikah, acara tunangannya sudah lama ketika kamu masih di Padang. Rencananya mau nanggap organ tunggal, sama seperti sunatan adiknya kemarin.”

Kurasakan hatiku retak mendengar penjelasan Ibu, aku memang tahu hal ini memang akan terjadi tapi aku tak pernah benar-benar siap menghadapinya. Aku masih tak rela melepas Ratna. Rasanya akan lama bagiku untuk mendapatkan seseorang seperti dia, aku sendiri tak yakin bisa.

Demi dilihatnya aku yang langsung murung, Ibu lalu menyuruhku untuk duduk sambil mengambilkan secangkir teh untukku.

“Ini tehnya diminum, ntar keburu dingin,” ujar Ibu. Aku hanya menuruti kata-katanya, kuseruput secangkir teh tersebut dan meletakkannya kembali ke atas meja. Aku mencoba menyembunyikan perasaanku.

“Kamu ndak usah kuatir, jodoh itu ndak ke mana. Ya, mungkin Ratna itu bukan jodoh kamu. Mungkin pula Tuhan telah mempersiapkan jodoh yang lain untukmu di luar sana” Ibu membuka kata-katanya.

“Ibu juga nggak tahu, Ndra. Tapi kemarin Ibu baru tahu bahwa Ratna memang telah dijodohkan dengan si Bowo, itu lho anaknya Pak Sarwo yang rumahnya di ujung desa. Mungkin ayahnya Ratna tidak merestui hubungan kalian karena takut terlalu lama nunggu kamu yang akan kuliah. Apalagi untuk seumuran gadis desa Ratna memang sudah pantas untuk menikah. Lagian bapakmu juga belum tentu merestui hubungan kalian, nanti kalau kamu sudah selesai kuliah kan bisa dapat kerja yang lebih bagus dan bisa cari gadis lain yang lebih sepadan, dibandingkan Ratna yang hanya lulusan SMA dan ujung-ujungnya juga menjadi petani.” Aku hanya diam saja mendengar penjelasan Ibu, ada benarnya juga memang.

Aku berlalu menuju beranda rumah, duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu Tembesu. Kulihat setangkai mawar merah yang kelopaknya mulai menghitam. Pasti dalam beberapa hari ke depan kelopaknya akan jatuh ke tanah, pikirku. Bunga mawar di halaman rumahku merupakan pemberian dari tetangga kami yang punya hobi bertanam bunga. Banyak sekali koleksi bunga di rumahnya. Suatu hari aku ke rumahnya dan melihat sekumpulan bunga mawar yang tengah mekar. Tertarik, aku lalu meminta bibitnya. Sementara aku kuliah, Ibu yang mengurus mawar-mawar itu hingga kini jumlahnya semakin banyak saja.

Kupetik setangkai mawar yang kelopaknya mulai menghitam, daripada berguguran sendiri lebih baik aku yang memetik kelopaknya satu per satu dan menerbangkannya ke udara. Dan berharap Ratna akan menangkap serpihan mawar itu ke dalam pangkuannya seolah dia tahu itu sebuah pesan dariku, sebuah untaian kata-kata bahwa aku masih menyayanginya dan akan terus begitu.

***

Tepat sehari sebelum acara pernikahan Ratna digelar aku putuskan untuk kembali ke Padang meski sebenarnya waktu liburku belum habis. Orang tuaku sempat menahanku dan meminta agar aku menyempatkan hadir di acara pernikahan Ratna, tapi aku tetap pada keputusanku dengan alasan harus daftar ulang untuk semester berikutnnya. Aku terpaksa berbohong karena aku tak ingin larut dalam kesedihan dan juga tak ingin membuat Ratna merasa ‘terganggu’ dengan kehadiranku. Sepertinya sekarang aku harus merelakan Ratna untuk orang lain.

Di dalam mini bus pikiranku masih tertuju pada sosok Ratna, sulit sekali bagiku melupakannya. Tapi harus diakui memang bahwa kebersamaanku bersamanya dulu merupakan saat terindah yang pernah kualami. Awal pertemuanku dengan Ratna memang biasa-biasa saja dan tak ada yang istimewa, saat itu aku hanya berpikir untuk menjalankan amanah ayahnya untuk selalu menjaga Ratna dan menganggapnya sebagai adikku sendiri. Namun seiring berjalannya waktu perlahan aku mulai memperhatikan Ratna lebih dalam dan tanpa sadar rasa itu pun perlahan muncul tanpa aku sadari.

Awal benih-benih itu mulai tumbuh tatkala sepulang sekolah aku harus mengantarkan pacarku Vani ke pasar sementara Ratna kusuruh menunggu di sekolah. Aku berpikir tak akan lama menemani Vani, tapi ternyata sekitar satu setengah jam kemudian aku baru kembali ke sekolah dan ketika sampai di gerbang sekolah tampak suasana sudah sangat lengang, kulihat Ratna masih setia menungguku sambil memainkan rumput di tangannya.

“Sory banget Na, kamu pasti bosan menunggu ya?” tanyaku bersalah.

“Ah, nggak papa kok. Yuk kita pulang,” jawab Ratna kalem dan tak menampakkan sedikitpun rasa kesal di wajahnya. Aku jadi semakin merasa bersalah.

Aku tak langsung pulang, untuk menebus kesalahanku aku mengajak Ratna mampir ke sebuah kedai yang menjual es cendol. Awalnya Ratna menolak karena jam segini dia seharusnya sudah ada di rumah tapi aku memaksanya. Kupesan dua gelas es cendol. Cuaca begitu panas hari ini, karena sangat haus aku pun tambah segelas lagi. Sementara Ratna masih dengan gelas yang sama. Kutatap Ratna yang memainkan sendok di dalam gelas, kutatap dalam-dalam seluruh wajahnya. Paras ayunya tetap tak berubah meski cuaca begitu panas, sesekali ia sibakkan rambut hitamnya yang tergerai lurus. Dia tak pernah menatapku kecuali aku menanyakan sesuatu kepadanya. Astaga, baru aku sadar sekarang bahwa Ratna memang benar-benar cantik, manisnya begitu natural tanpa make up sekalipun. Ke mana saja aku selama ini? Tiap pagi aku menjemputnya berangkat ke sekolah, siangnya aku antar dia pulang ke rumah. Di sekolah pun kami jarang berinteraksi, pun ketika pulang sekolah aku juga jarang ke rumah Ratna, dia tak pernah bertanya mengenai tugas-tugasnya karena aku yakin dia mampu mengerjakannya sendiri. Hmm, aku baru sadar selama ini telah ‘menyia-nyiakan’ permata yang selama ini selalu kubawa ke mana aku pergi. Ah, tapi jiwanya begitu lugu dan aku berjanji dalam hati tak akan kubiarkan seseorang melukai perasaannya.

‘Hubunganku’ dengan Ratna semakin dekat saja. Suatu hari di jam istirahat Vani dan beberapa temannya mendatangi kelas Ratna, tanpa basa-basi dia langsung mendamprat Ratna dengan cemoohan dan kata-kata kasarnya. Ratna hanya diam tak berusaha membela diri atau menjawab pertanyaan Vani. Awalnya Ratna masih bisa menahan, tapi ketika Vani menyinggung kepalanya dengan tangan kiri Ratna mulai meneteskan air matanya. Dan ketika Vani berlalalu dari kelas air mata Ratna tak terbendung lagi, ia mulai menangis terisak. Teman-temannya yang dari tadi hanya dapat melihat kejadian tersebut mulai mendekatinya, menyeka air mata Ratna dan mengelus-elus pundaknya mencoba untuk menenangkan Ratna yang masih terus terisak. Ketika pulang kulihat mata Ratna masih memerah, ia tampak sedih tapi aku tak menanyakan apa-apa kepadanya.

Keesokan harinya aku baru tahu apa yang menyebabkan Ratna tampak begitu murung, salah seorang teman kelasnya memberitahuku apa yang telah terjadi kemarin. Aku masih tak yakin, aku pun berlalu ke kelas Ratna untuk mencari kebenaran berita tersebut. Tak kujumpai Ratna, hanya teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Akupun bertanya kepada mereka dan mendapat jawaban yang sungguh di luar dugaanku. Ketika hendak keluar kelas kudapati Ratna berjalan masuk ke dalam kelas dengan wajah tertunduk. Kuraih tangannya dan kuajak ke sebuah taman dekat kolam yang ada di belakang laboratorium sekolah.

“Bener kemarin Vani mendatangimu di kelas? Kok kamu ‘gak cerita Na?” tanyaku padanya. Ratna masih diam tertunduk seolah tak ingin menjawab pertanyaanku.

“Na, jawab dong,” pintaku ketika lama Ratna terdiam. Kuraih bahunya, tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya padaku. Aku terkejut tak menyangka Ratna akan melakukannya, aku pun mencium aroma wangi tubuh Ratna. Perlahan ia mulai terisak dalam tangis kecilnya, aku mengelus-elus pundaknya mencoba untuk menenangkannya. Dengan suara tersedu Ratna mulai menceritakan kejadian yang terjadi kemarin, adakalanya ia berhenti sejenak karena sesenggukan tangisnya. Aku hanya mendengarkan dengan seksama semua perkataan Ratna, bulir air matanya terus mengalir seolah membuat anak sungai di pipinya. Kuambil sapu tangan dari sakuku dan mulai menghapus air matanya. Ratna hanya menurut. Aku sempat berfikir tak seharusnya Ratna mendapat perlakuan seperti itu dari Vani, selama ini hampir dia tak pernah membuat masalah dengan orang-orang di sekitarnya. Ratna terlalu baik untuk disakiti. Angin yang semilir seolah menjebak kami untuk tidak beranjak dari tempat duduk, suasana hening seketika. Ratna masih di sisiku, bersandar di tubuhku. Aku hendak mencium keningnya ketika tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi, kuurungkan niatku tersebut. Aku lalu mengantar Ratna sampai ke dalam kelas, sementara ia masih memegang sapu tangan yang tadi kugunakan untuk menyeka air matanya.

Di dalam kelas aku tak bisa konsentrasi menerima pelajaran yang diterangkan oleh guruku. Bayangan wajah Ratna seolah mengelilingi pikiranku, saat-saat indah bersamanya tadi pun masih tak dapat kulupakan. Aku merasakan kehangatan ketika bersamanya, mungkin sebuah kasih sayang tak terungkapkan yang kurasakan darinya.

Akhirnya kesabaranku habis juga menghadapi sifat Vani yang berlebihan ini. Ketika jam istirahat kedua tiba aku segera ke luar kelas untuk mencari Vani, aku masuk ke dalam kelasnya. Kelas tampak begitu sepi tapi kudapati Vani masih di dalam kelas dan hendak keluar, aku menghadangnya di ambang pintu. Vani tampak begitu terkejut tapi kurasa dia sudah tahu maksud kedatanganku. Aku segera bertanya kepadanya perihal perlakuannya terhadap Ratna kemarin, ia mencoba untuk tak menjawab dan berlalu dari hadapanku. Tapi kuraih tangannya, kucoba memberi sedikit nasehat kepadanya kemudian kuucapkan kata-kata sebelum aku berlalu.

“Kita putus,” sebelum sempat pergi Vani meraih tanganku. Sepertinya ia masih tak terima dengan keputusan ini. Segera kulepaskan genggaman tangannya dan berlalu. Aku memang tak tahan dengan sikap Vani yang terlalu posesif dan akhir-akhir ini sifat cemburunya yang sangat berlebihan terhadap Ratna. Tapi dibalik semua itu sepertinya aku mulai menyukai Ratna.

Kedekatanku dengan Ratna bertambah erat ketika sekolahku mengadakan kegiatan persami yang berbarengan dengan konsernya Bondan & Fade 2 Black, aku dan Ratna secara diam-diam meninggalkan perkemahan untuk menonton konser mereka di kota Sarolangun. Yah, Ratna memang fans beratnya Bondan. Dia pernah bercerita bahwa kamarnya penuh dengan poster mereka. Karena itulah aku mengajaknya kabur. Awalnya Ratna menolak, tapi aku meyakinkan bahwa konser ini ‘gak akan datang dua kali dalam waktu dekat dan akhirnya dia pun bersedia. Aku tersenyum kecil mengingat kejadian itu, tak menyangka Ratna akan mangkir dari kegiatan sekolahnya karena selama ini dia memang begitu patuh dan jarang berbuat hal-hal yang konyol.

Semua kenangan itu tentunya tak akan mudah kulupakan dan aku rasa Ratna juga sama. Namun yang membuat kedekatanku dengan Ratna semakin intim yaitu ketika semester akhir sekolahku. Waktu itu anak kelas 3 memang diwajibkan untuk mengikuti pelajaran tambahan seusai jam sekolah untuk menghadapi UAN, sementara Ratna memang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler meski tidak tiap hari. Saat itulah aku sering mengajak Ratna jalan bareng sekedar melihat-lihat ramainya pasar di hari pasaran, keliling kota di sore hari atau sekedar berbagi cerita di bangu taman sekolah. Bahkan aku pernah mengajaknya keliling pasar malam dengan alasan meempersiapkan kegiatan yang hampir deadline. Karena memang kami merahasiakan hubungan tersebut dari orang tua kami masing-masing, jadi aku dan Ratna harus mencuri waktu untuk tetap dapat bersama. Tapi aku membuat kesalahan fatal yang seharusnya tak kulakukan, aku tak pernah sekalipun mengungkapkan rasa yang kumiliki terhadap Ratna. Aku hanya mengekspresikannya ke dalam bentuk kasih sayang kepadanya, perlakuan yang lebih dari sekedar teman. Dan aku tak benar-benar tahu apakah Ratna juga merasakan hal yang sama atau hanya menganggap apa yang telah kulakukan bersamanya hanya sebatas kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.

Tapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga, hubunganku dengan Ratna akhirnya diketahui juga oleh kedua orangtuanya. Rupanya mereka tak merestui hubungan kami, kedua orang tua kami pun menggelar sebuah pertemuan keluarga membahas hubungan kami tapi orang tua Ratna tak membeberkan alasan yang jelas mengapa mereka tak memberi restu. Sementara orang tuaku tak mempermasalahkan hubungan kami, tapi mulai malam itu mereka menyuruhku untuk jaga jarak dengan Ratna demi menghormati hubungan di antara keluarga kami yang telah berjalan dengan baik selama ini. Dan mulai saat itulah aku tak lagi membonceng Ratna ketika berangkat dan pulang sekolah. Tiap pagi secara bergantian ayah dan kakak Ratna mengantar ke sekolah dan menjemputnya ketika pulang. Hingga akhirnya ketika aku menamatkan SMA aku memilih untuk melanjutkan studiku ke Padang, meski awalnya aku ingin kuliah di Jambi karena jarak yang relatif lebih dekat agar aku tetap bisa berhubungan dengan Ratna. Dan Ratna yang naik ke kelas 2 dipindahkan ayahnya ke Solo dan tinggal bersama pamannya demi menjaga jarak denganku. Setelah menamatkan SMA Ratna kembali ke Sarolangun dan belum genap setahun sejak kedatangannya aku mendengar kabar bahwa dia dekat dengan seseorang. Hingga akhirnya hari ini ia menikah dengan seorang lelaki pilihan orang tuanya. Belakangan aku baru tahu bahwa mereka memang telah lama dijodohkan tanpa Ratna ketahui. Tapi aku masih yakin bahwa Ratna memang mencintaiku meski aku tak pernah mengungkapkannya. Kalaupun dia harus menikah dengan lelaki lain itu bukan karena dia tak menginginkanku tapi karena baktinya yang begitu besar kepada kedua orang tuanya.

Ah, sudahlah. Semua telah berlalu, aku akan menjadikan ini pengalaman yang berharga dalam hidupku. Aku juga berharap Ratna menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Toh kata orang jodoh tak akan ke mana. Kini perlahan aku mencoba melupakan Ratna meski terlalu sulit bagiku, tapi akan kucoba. Sekarang saatnya aku menatap ke depan, masih banyak yang harus kulalukan. Segera menyelesaikan kuliahku dan membuat orang tuaku bangga serta bisa membahagiakan mereka di kemudian hari. Aku juga berharap suatu saat nanti bisa memberangkatkan mereka ke Tanah Suci untuk menunaikan Ibadah Haji dengan biayaku sendiri.

***

Tak terasa mini bus yang aku tumpangi telah sampai di Bangko. Aku turun di terminal bus dan segera menuju loket untuk konfirmasi tiket yang telah aku pesan sehari sebelumnya lewat telepon. Aku memilih bangku di bagian tengah yang dekat dengan jendela. Tak butuh waktu yang lama bagiku untuk menunggu karena bus yang akan kutumpangi langsung tiba. Setelah semua penumpang naik bus segera berangkat meninggalkan kota Bangko membelah keheningan malam di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Aku sempat tertidur sebelum akhirnya terjaga sejam kemudian karena bus berhenti di daerah Muaro Bungo untuk menaikkan penumpang yang tersisa. Tampak para penumpang berdesakan menaiki bus dan mencari nomor bangkunya masing-masing. Aku hendak memejamkan mataku ketika seorang perempuan menanyakan nomor tempat duduknya padaku,

“Nomor 2o bang?” tanyanya berbasa-basi, aku melirik nomor bangku di atas jendela dan mengangguk pelan kepadanya. Ia segera meletakkan tasnya di bagasi di atas tempat duduk dan segera duduk di sampingku. Aku tak begitu memperhatikannya tapi sekilas tampak perempuan itu mengenakan jeans pensil dengan sepatu kets berwarna hitam-putih serta memakai sweater berwarna dominan putih yang juga menutup kepalanya.

Bus pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tampak perempuan di sampingku sibuk membalas sms yang masuk ke hpnya sedari tadi, jari-jarinya begitu lincah memencet tombol-tombol huruf di hp jenis qwerty miliknya. Mungkin dia sedang membalas sms dari Ibunya yang menanyakan sudah sampai di mana dirinya sekarang dan berpesan agar hati-hati di jalan, atau mungkin sms dari pacarnya yang menayakan hal yang sama dengan ibunya.

Dengan jarak yang begitu dekat dengan perempuan itu aku masih belum membuka percakapan dengannya. Biasanya bila ada 2 orang penumpang yang belum mengenal sebelumnya dan duduk bersampingan di dalam bus akan saling bertanya ‘dari mana dan hendak ke mana’ sekedar untuk berbasa-basi saja. Tiba-tiba hpku berdering pertanda ada pesan masuk, ketika aku merogoh saku untuk mengambil hp aku sempat menatap sekilas ke arah perempuan di sebelahku dan kebetulan dia juga sedang menatap ke arah jendela. Jadilah kami saling beradu pandang, tapi tak lama karena aku segera membalas sms di hpku dan memasukkannya kembali ke dalam saku sementara dia langsung memalingkan wajahnya dan pura-pura membalas sms di hpnya. Kami saling diam untuk beberapa saat kemudian hingga akhirnya aku memulai percakapan hangat itu,

“Ke Padang juga ya?” tanyaku kepadanya. Ia masih sibuk dengan hpnya lalu menjawab,

“Iya bang. Abang dari mana?

“Aku dari Sarolangun, kamu kuliah atau kerja di Padang?”

“Kuliah bang, abang sendiri?”

“Aku kuliah juga, kamu ambil jurusan apa?”

“Aku ambil jurusan Akuntansi, abang?”

“Oh, aku ambil jurusan Teknik Mesin di Fakultas Teknik yang S1-nya,” jawabku singkat. Begitulah percakapan kami dimulai hingga kami larut dalam perkenalan yang hangat itu. Dari situ aku tahu namanya Ratih yang ternyata dia juga satu kampus denganku dan 2 tingkat di bawahku. Ternyata Ratih anaknya asyik juga, tiap aku tanya dia selalu menjawab dengan seksama bahkan balik bertanya sehingga obrolan kami terjalin dua arah dan tidak membosankan. Adakalanya kami tertawa kecil manakala ada sesuatu yang lucu menurut kami berdua. Akhirnya aku tahu juga bahwa Ratih sekarang sedang sendiri alias menjomblo, aku pun jadi ingin tahu lebih dalam tentangnya.

Bus yang kami tumpangi akhirnya berhenti di sebuah rumah makan di daerah Dharmasraya. Aku tak segera turun, kubiarkan orang-orang turun terlebih dahulu karena masih berdesakan. Setelah bus kosong aku dan Ratih bergegas turun dan menuju WC terlebih dahulu. Kemudian kuajak Ratih ke sebuah kedai di sebelah rumah makan utama dan memesan dua mangkuk mi rebus. Usai makan aku langsung menuju kasir untuk membayar, tak ada uang kecil di dompetku. Kukeluarkan satu lembar uang seratus ribu,

“Ada uang kecil, dik?” Tanya kasir kepadaku, aku menggeleng. Tiba-tiba Ratih mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dompet di dalam tasnya.

“Pakai ini aja bang,” ujarnya lirih kepadaku. Aku hanya hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Payah, masa cewek yang bayar? Batinku dalam hati. Kami segera menuju bus karena sebentar lagi bus akan segera berangkat. Di dalam bus tak banyak yang kami bicarakan, seiring berjalannya bus melintasi malam yang dingin kami pun perlahan tertidur dan terlelap dalam mimpi masing-masing.

Aku terbangun tatkala suasana di dalam bus kembali gaduh, ternyata bus telah sampai di Padang tepatnya di daerah Cengkeh. Aku segera membangunkan Ratih yang masih tidur,

“Bangun Tih, kita udah sampai.” Ratih segera bangun sambil mengusap mata dengan kedua tangannya. Ia pun mengambil tasnya dan segera mengajakku turun, aku mengikutinya dari belakang. Kami memilih tempat duduk yang tak jauh dari bus berhenti. Ratih mengambil hp dari dalam sakunya dan mulai mengetikkan huruf demi huruf, mungkin mengabari ibunya bahwa ia telah sampai. Sementara aku menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya. Setelahnya kami pun terlibat dalam obrolan ringan, saling menanyakan di mana kami tinggal atau siapa yang akan menjemput. Ratih memberitahuku bahwa ia akan naik ojek saja sedangkan aku menunggu seorang teman yang akan menjemputku. Aku mengambil hp dan menelepon temanku tersebut, ternyata ia baru saja bangun. Terpaksa aku harus menunggunya. Mengetahui hal itu Ratih pun memutuskan untuk menemaniku sambil menunggu kedatangan temanku. Kami kembali masuk ke dalam obrolan hangat hingga akhirnya temanku tiba. Sebelum berpisah aku meminta nomor hp Ratih dan ia tak keberatan memberikannya kepadaku.

“Sory Ndra, semalam aku begadang jadi agak suasah bangunnya. Beruntung tadi kamu nelpon,” ujar temanku sambil menyalami tanganku.

“Gak papa, oh ya kenalin ini Ratih temanku,” ujarku memperkenalkan Ratih teman baruku kepadanya.

“Dan ini Dhani temanku, Tih. Kebetulan kami tinggal satu kos,”

“Oh, temannya Andra ya. Aku Dhani,” Dhani dengan semangatnya memperkenalkan diri kepada Ratih. Ratih pun membalas jabatan tangan Dhani. Akhirnya kami berpisah, aku menempuh jalan ke arah sebelah kiri sementara Ratih ke arah kanan.

Yup, begitulah perkenalan singkatku dengan Ratih yang sangat berkesan. Aku berharap dia juga merasakan hal yang sama.

***

Tak terasa sudah 6 bulan sejak pertama aku bertemu Ratih, selama itu pula aku mencoba untuk mengenal Ratih lebih dalam dan ternyata ia pun memberikan respon yang positif. Ketika kebetulan kami kuliah di gedung yang berdekatan, aku langsung mengajaknya makan di kantin usai jam kuliah dan mengajaknya pulang bersama. Aku mulai rajin mengirim sms kepadanya dan sesekali menelepon untuk sekedar bertanya ‘lagi di mana’ atau ‘udah makan atau belum?’. Aku mulai berani mengajaknya keluar untuk sekedar makan malam atau nongkrong di Pantai Padang saat malam minggu. Atau mengajaknya nonton konser band-band papan atas Indonesia yang kebetulan sedang manggung di Padang. Sesekali kuajak ia menemaniku ketika aku sedang ada jadwal main futsal. Proses itu berlangsung begitu alami tanpa ada paksaan dan kami betul-betul menikmatinya. Hingga akhirnya di waktu yang tepat aku menyatakn cinta kepada Ratih, tak perlu waktu yang lama bagiku untuk menunggu jawabannya karena dia juga merasakan hal yang sama denganku. Kami berdua jadian.

Kini perlahan aku sudah mulai bisa melupakan Ratna meski tak sepenuhnya. Kehadiran Ratih cukup bisa mengisi kekosongan yang ada di hatiku, mungkinkah dia tulang rusuk yang selama ini aku cari? Aku sedang menikmati jawabannya bersama Ratih sekarang.

Mungkin ia tak seharum setangkai mawar seperti Ratna, tapi Ratih adalah setangkai melati putih yang memberi kesejukan di setiap nafas yang aku hirup dan mampu meneduhkan jiwaku yang dulu terasa gersang. Mungkin juga ia tak semerah mawar di pagi hari tapi putihnya mampu memberikan warna di setiap hari-hariku seperti pelangi di kala sore. Aku berharap dapat terus menjaganya hingga nanti melati itu terus bermekaran dan aku selalu bisa menikmati wanginya setiap saat. Setangkai melati di hatiku.

6 thoughts on “Setangkai Bunga

Comments are closed.