Nasi Goreng dan Sepenggal Kisahnya

Malam ini udara terasa begitu dingin, hujan deras baru saja berhenti mengguyur kawasan Pasar Baru. Bintang-bintang pun seolah enggan menunjukkan wajahnya karena awan hitam masih rapat menutupinya. Suasana tampak tak begitu ramai dibandingkan malam sebelumnya. Biasanya daerah ini selalu ramai tiap malamnya karena merupakan kawasan ‘business center’, di mana banyak mahasiswa yang kos di tempat ini yang berimbas pada banyaknya pula toko maupun warung yang didirikan di daerah ini. Mulai dari mini market, salon, tempat foto kopi, rental band, PS3 area hingga warung-warung makan baik yang menjual nasi ampera maupun nasi goreng. Pada malam hari tempat yang paling sering dikunjungi adalah warung nasi goreng yang memang telah menjadi menu favorit para mahasisiwa di sini. Sementara untuk minuman yaitu teh telur yang berfungsi merecovery tenaga yang hilang.

Sementara dari kejauhan tampak dua orang sedang mengendarai sebuah sepeda motor Honda Astrea Supra-X keluaran tahun 2007 berwarna dominan hitam. Yang di depan bernama Randy, lengkapnya Randy Novriansyah asal Pekan Baru kuliah di Jurusan Teknik Mesin. Sedangkan yang membonceng bernama Yuda Pratama, asli Solok dan mengambil jurusan Teknik Industri. Keduanya merupakan mahasiswa tahun akhir dan berteman sudah cukup lama semenjak mereka bergabung di sebuah organisasi kepecintaalaman di fakultas mereka. Randy mengenakan jeans warna abu-abu dengan kedua bagian lututnya yang sobek dan mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan tulisan “Tuhan Bersama Mahasiswa Tahun Akhir”. Sementara Yuda dengan celana gunung warna hitam dan kemeja panjang kotak-kotak. Kedua anak ini ‘turun gunung’ dari kampusnya yang terletak di perbukitan menuju Pasar Baru untuk makan malam, karena warung-warung yang ada di dekat asrama tutup lebih cepat dari biasanya. Tampak mereka sangat kelaparan.

Tujuan pertama mereka tentu sebuah warung nasi goreng yang terletak di simpang empat, tempat langganan mereka. Karena selain murah porsinya lebih dari cukup, soal citarasa mereka tidak terlalu memusingkannya. Tapi setibanya di sana ternyata warung tersebut tutup, tak seperti biasanya yang buka sampai tegah malam. Alangkah kecewanya mereka, tapi mereka tak putus asa dan mencari warung lain yang berada tak jauh dari tempat tersebut, tapi ternyata juga tutup. Mereka pun berputar arah menelusuri kembali jalan yang telah mereka lalui sebelumnya siapa tahu masih ada warung nasi goreng lain yang masih buka karena di kawasan ini memang banyak terdapat warung nasi goreng. Tapi sia-sia mereka melakukannya karena tak satupun warung yang buka, mereka berkeliling sekali lagi tapi hasilnya tetap nihil, bahkan rumah makan atau kedai bakso pun tak ada yang buka atau tutup lebih awal malam ini. Yang masih buka justru warung fotokopi yang tentu saja bukan nasi goreng yang terpampang di etalase toko melainkan peralatan tulis dan kantor, juga bukan kuali besar tempat memasak nasi goreng tapi sebuah mesin foto kopi yang berdiri kokoh dengan angkuhnya. Mereka pun berandai-andai mesin fotokopi itu sebuah kuali besar dan alat tulis kantor di etalase adalah nasi dan bumbu-bumbu lain sehingga mereka bisa masuk ke dalam warung tersebut sambil memesan dua piring nasi goreng.

Mereka frustasi, di atas sepeda motor mereka kembali menelusuri jalanan yang sepi dengan wajah lesu. Hingga sampailah mereka di sebuah jembatan yang terkenal dengan sebutan Jambsek. Jembatan tersebut tak terlalu panjang hanya sekitar 5 meter dengan pembatas tepi dari besi yang dicat biru tua. Tepat di ujung jembatan duduk seorang pemuda dengan pakaian agak lusuh dan juga tampang yang keruh. Mereka berhenti tepat di depan pemuda tadi. Yuda yang lelah turun dari sepeda motor dan menghampiri pemuda tersebut,

“Bang, beli nasi goreng…” ujar Yuda kepadanya. Sang pemuda hanya diam, sesaat masih tak bergeming dan menoleh ke arah Yuda. Ia tampak bingung dengan permintaan yang diajukan Yuda kepadanya, kalau memberi recehan atau selembar uang seribu atau dua ribuan pasti langsung dia terima. Kemudian tampak raut muka sang pemuda bersungut-sungut marah.

“Apa kau gila? Kau tidak lihat aku sedang duduk dan tak ingin diganggu, lagi pula aku tak menjual nasi goreng!” Bentak pemuda itu ringan.

“Tapi kami lapar sekali bang, belum makan dari siang tadi dan belum makan nasi goreng selama seminggu”

“Apa peduliku? Orang lain saja tak peduli dengan keadaanku ini.”

“Makanya usaha, jangan cuma meminta-minta di tepi jalan!” Bentak Yuda penuh emosi karena keinginannya tidak terpenuhi. Randy mendekati Yuda mencoba untuk menenangkannya.

“Sudahlah, Yud. Kita cari di tempat lain saja.”

“Tapi aku sangat ingin makan nasi goreeeeeng…….!” Teriak Yuda lantang. Tiba-tiba saja seberkas cahaya melalui mereka bertiga, menyusur sepanjang jalan dan membuat terang kiri dan kanan sepanjang jalan yang dilaluinya hingga akhirnya hilang di ujung jalan. Mereka tampak terkesima dan terdiam untuk sesaat.

“Baiklah jika kalian memaksa, akan kuturuti permintaan kalian. Tunggu di sini aku segera kembali.”Tiba-tiba pemuda tersebut menanggapi dengan santun.

***

Keesokan harinya sang pemuda pergi ke sebuah hutan yang tepat berbatasan dengan perkampungan di desanya. Ia pergi seorang diri untuk menemui seorang dukun yang memang sudah terkenal di desanya itu untuk meminta pesugihan. Sang pemuda belum pernah ke sana sebelumnya, tapi ia nekat menelusuri jalan yang hanya ia dengar ceritanya dari mulut ke mulut. Ia berjalan mendaki bukit, lewati lembah dan sesekali dijumpainya sungai-sungai kecil. Sebenarnya tak lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke sana, tapi menjelang senja barulah ia tiba di tempat sang dukun tinggal. Ia dapati sebuah gubuk tua yang tampak reot dan kurang terawat. Tanpa basa-basi sang pemuda langsung masuk ke dalam gubuk tersebut.

“Brakk!!!” Alangkah terkejutnya pemuda tersebut ketika pintu tertutup sendiri dengan kerasnya. Ia semakin terkejut ketika mendapati ruangan yang semula kotor tak terawat kini berubah menjadi bersih seketika. Lantai yang semula beralas tanah kini telah menjadi susunan keramik berbentuk segi empat dengan warna putih mengkilat dan di dinding-dinding terdapat pajangan lukisan-lukisan yang indah, ada lukisan landscape Pantai Air Manis, sunset di Pulau Sikuai dan sebuah lukisan dengan gambar menyerupai Monalisa serta masih banyak lagi yang semuanya tersusun rapi di dinding yang bercat warna putih. Perabotan rumah tangga pun lengkap di ruangan ini, mulai dari dispenser sampai televisi. Melihat perubahan itu sang pemuda terkejut dan bulu kuduknya berdiri tegak bak rambut dengan gaya mohak. Ia merasakan sebuah keganjilan telah terjadi. Lalu ia pun segera berbalik menuju pintu dan mencoba membukanya kembali, tapi sekeras apa pun usahanya tetap tak berhasil.

Di tengah usahanya tersebut tiba-tiba muncul seorang pria tua dari sebuah kamar di ujung ruangan ini. Dengan dingin ia menghampiri pemuda tersebut,

“Apa yang kau inginkan wahai anak muda?” Tanyanya penuh wibawa. Sang pemuda tak segera menjawab, hatinya tambah kalut melihat sosok orang tua tersebut. Dipandanginya lelaki tua itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata yang gemetar. Lelaki itu sepertinya mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna hitam dengan ikat kepala dari kain berwarna dominan cokelat yang menutupi rambutnya yang telah beruban dan sandal jepit yang rasanya tak akan ia temui di etelase toko sandal manapun.

“Saya ingin kaya mbah, saya ingin menghidangkan dua piring nasi goreng!” ujar pemuda tersebut dengan datarnya. Lantas sang dukun berjalan mendekati sang pemuda, mengitarinya dan ganti memandangi seluruh tubuh pemuda itu yang masih dibayangi ketakutan.

“Kau tak perlu datang ke sini kalau hanya menginginkan dua piring nasi goreng, kau bisa mencuri jemuran tetanggamu atau bahkan merampok pedagang sate keliling!”

“Baiklah, saya ingin punya warung nasi goreng mbah!”

“Kau juga tak harus ke sini, mengapa tak merampok bank saja?”

“Takut mbah, ada satpam yang menjaganya,”

“Kalau begitu bobol saja ATMnya!”

“Saya tak punya keberanian mbah, makanya saya datang kemari,” ujar sang pemuda menanggapi setiap sergahan sang dukun. Kemudian sang dukun membelakangi sang pemuda,

“Kau tahu, tak mudah untuk menjadi kaya. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan semua itu. Dan sepertinya kau tak mengetahui hal itu karena nyatanya kau datang kesini!” Sang dukun lantas mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser di sebelah ia berdiri, sepertinya ia kehausan. Kemudian melanjutkan kata-katanya,

“Kau tahu dosen yang setiap pagi pergi ke kampus menggunakan sedan berwarna hijau muda, yang rumahnya hanya beberapa petak dari rumahmu? Ia tak serta merta mendapat kesuksesannya dengan instan. Ia awalnya sekolah dari TK sampai SMA, bahkan ketika masih kecil ia mengikuti PAUD. Kemudian ia melanjutkan kuliah di kota dan setelahnya meneruskan S2 di Universitas terkenal di pulau Jawa lalu mengambil gelar Doktor di Jepang. Butuh waktu dan proses yang lama untuk itu.”

“Dan apakah kau tahu bahwa anggota dewan di kota ini yang rumahnya tepat membelakangi rumahmu, yang kerena tingginya pagar pembatas kau bahkan tak bisa melihat halaman belakang rumahnya, bisa sampai di posisinya saat ini juga karena kerja kerasnya. Ya, kerja kerasnya karena ia selalu mencari koneksi ke siapa saja yang bisa mempermudah jalannya. Dan setelah itu ia berusaha keras untuk menyogok orang-orang penting di kota ini agar keinginannya terkabulkan. Memang jalannya agak sedikit mudah karena orang tuanya telah kaya terlebih dahulu, sehingga ia punya modal yang bagus untuk memulai mimpinya” Sang dukun diam sejenak kemudian melanjutkan,

“Kau juga harus tahu, pemimpin di kota ini yang terkenal karena kedermawanannya sebab mempunyai harta yang berlimpah dan sering bersedekah juga berjuang dengan gigih untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Rumahnya sekarang di kota, tapi dulu sekali sebelum sukses ia bermukim tak jauh dari rumahmu. Tiap tahun kekayaannya terus meningkat, seiring semakin banyaknya pembangunan gedung pemerintah di kota ini. Belum lagi jika kota ini mendapat bencana maka pundi-pundi kekayaannya akan meningkat pesat pula. Ya, meskipun ia seorang koruptor tapi setidaknya ia tetap berjuang dan berusaha dengan gigih untuk mendapatkan apa yang ia impikan.” Sang pemuda tertegun mendenganr penjelasan dari sang dukun, ia pun sempat berpikir jangan-jangan dukun ini adalah seoarng dosen yang mengajar di kampus di kota ini. Betapa tidak, ia tahu hampir semua proses menuju kesuksesan dari cara yang jujur sampai cara yang sangat tidak jujur sekalipun. Di dalam kebingungannya, sang dukun melanjutkan ‘nasihat’nya.

“Nah di komplek itu hanya kau saja yang tidak sukses, itu karena kau tidak mau berusaha dan berkorban untuk masa depanmu. Nah kau sendiri pengorbanan apa yang akan kau lakukan untuk menjadi kaya? Kau pikir perjalananmu ke sini sudah merupakan sebuah pengorbanan?”

“Kau pasti tak tahu jawabannya karena selama ini kau tidak pernah berusaha, kau hanya seorang pemalas!” Hardik sang dukun ringan.

“Saya akan melakukan apapun yang mbah perintahkan”

“Dengan segala konsekuensinya?”

“Iya mbah, saya siap”. Sang dukun kembali mengitari pemuda tersebut dengan tangan kiri di belakang punggungnya dan tangan kanan mengelus-elus janggutnya yang tidak terlalu panjang itu.

“Baik jika itu maumu. Apakah kau sudah berkeluarga?

“Belum mbah,”

“Jika nanti kau sudah berkeluarga siapa yang akan paling kau kasihi dan cintai?”

“Istri saya mbah”

“Mengapa?”

“Karena dia yang saya temui pertama kali dan dia pula yang akan selalu memenuhi hasrat saya di setiap malam nantinya”. Sang dukun hanya tersenyum simpul, tertawa kecil dalam hati sambil bergumam ‘dasar pemalas, mau enaknya saja’.

“Baik, aku telah melihat kesungguhanmu untuk menemuiku. Bisanya tak banyak orang yang bisa sampai ke tempat ini. Kau beruntung. Aku akan memberikan kekayaan yang kau pinta, tapi meskipun ini jalan pintas tetap harus ada pengorbanannya.”

“Apa itu mbah?” Sang pemuda tak sabar ingin tahu. Sang dukun diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu berkata,

“Siapa pun sitrimu, kau akan kehilangan dia ketika kalian telah mempunyai seorang anak tepat ketika anak kalian berumur 5 tahun!”.

“Hah!!! Lantas siapa yang akan menemaniku menikmati kekayaanku mbah?” Sang pemuda terkejut bukan kepalang.

“Dasar bodoh! Kau bisa mencari yang lain lagi, masih banyak wanita yang kelak tergila-gila kepada hartamu. Dengan uangmu kau juga bisa keluyuran tiap malam mencari para perempuan malam dengan kualitas terbaik sekalipun!” Sang pemuda lantas diam dan berpikir sejenak hingga akhirnya menyadari apa yang dikatakan sang dukun benar juga kiranya.

“Apa tidak ada syarat yang lebih ringan lagi mbah?”

“Baiklah, syaratnya aku tambah lagi. Kaki kirimu akan pincang selama enam bulan. Itu harga pantas yang kau dapatkan, pemalas!” Sang pemuda diam sejenak, ‘mengapa pengorbanannya bertambah lagi?’, batinnya dalam hati.

“Bagaimana anak muda, kau menyerah?” Sang pemuda masih diam, berpikir lagi sejenak untuk kedua kalinya.

“Baiklah mbah saya akan menerima segala konsekuensi yang telah mbah berikan, asalkan saya bisa kaya.”

“Baik, sekarang kau boleh pulang” Ujar sang dukun enteng.

“Tidak ada ritual yang harus saya lakukan mbah?” tanya sang pemuda sedikit terkejut.

“Aku tahu kau adalah pemalas sejati, makanya aku tidak memberikanmu ritual yang rumit. Kau cukup menanam biji pohon ini di tiap sudut pekarangan rumahmu dan merawatnya dengan baik.” Ujar sang dukun sambil memberikan empat buah biji pohon berwarna cokelat tua sebesar ibu jari tangan. Sang pemuda bertanya-tanya dalam hati biji apakah gerangan ini? Tapi ia tak bermaksud menanyakannya kepada sang dukun, takut mendapat syarat lagi.

“Terima kasih banyak mbah, jika ada waktu aku pasti akan berkunjung ke sini lagi sambil membawakan oleh-oleh untuk mbah,” katanya bersungut-sungut senang.

“Tak perlu, aku yakin kau tak akan mengingat asal-usulmu kelak. Kau boleh pulang sekarang”

“Baik mbah, sekali lagi terima kasih banyak mbah.” Sang pemuda lalu menuju pintu tanpa mengucapkan pamit terlebih dahulu kepada sang dukun. Baru beberapa langkah berjalan, lalu ia menoleh kembali ke belakang dan alangkah terkejutnya ia mendapati bahwa rumah sang dukun kembali persisi ketika pertama kali ia melihatnya. Dinding luarnya tampak kumuh dan atap rumbia yang menempel di atasnya sudah mulai rusak di sana-sini, sekilas tampak gubuk itu sudah lama tak berpenghuni. Ah, tapi apa pedulinya. Toh, semua yang ia inginkan sudah ia dapatkan. Kini dalam benaknya hanya ada keinginan untuk cepat pulang dan berharap keajaiban terjadi padanya kemudian segera menyiapkan dua piring nasi goreng. Ia mulai membayangkan jenis nasi goreng apa yang akan ia sajikan nanti, “Nasi goreng petai atau nasi goreng bakso?”

***

Randy dan Yuda masih berdiri di ujung Jembatan Jambsek sambil kedua tangan mereka bersedakep karena udara yang semakin dingin, sesekali mereka mengusap-usapkan kedua telapak tangan mereka. Keduanya menatap jalanan yang sepi, hanya sesekali pengendara sepeda motor yang lalu di jalan tersebut. Tiba-tiba dari ujung jalan melesat dengan kencangnya seberkas cahaya berwarna putih, yang hampir tak terdefenisikan putihnya seperti apa. Cahaya tersebut melintas tepat di depan mereka dan hilang di ujung jalan yang lain. Untuk sesaat mereka terpana, diam dan hanya saling pandang. Mereka tambah terkejut begitu menoleh ke belakang mendapati sebuah rumah makan telah berdiri tepat di hadapan mereka. Tempat tersebut lebih tepat disebut kedai karena ukurannya yang tidak terlalu besar, terdapat banyak tempat duduk dan meja yang diatur sedemikian rupa. Dekorasi kedai tersebut sangat sederhana tanpa warna-warna yang mencolok ditambah dengan pancaran beberapa bola lampu yang menggantung di langit-langit ruangan itu, membuat tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. Di bagian depan kedai tersebut, tepatnya di sebuah kaca bening yang menjadi tempat bahan-bahan makanan dipajang, terdapat sebuah tulisan “Sedia : Nasi goreng, Mi goreng, Mi rebus, Teh telur, Kopi, Es teh”.

Dari kedai tersebut keluar seorang pemuda memakai setelan kemeja rapi berjalan agak sedikit terpincang-pincang mendekati keduanya,

“Mari silahkan masuk, nasi goreng kalian sudah saya hidangkan di meja.” Pemuda tersebut mempersilahkan mereka untuk masuk. Randy dan Yuda masih larut dalam kebingungan mereka, tapi nalar mereka mulai tak bekerja begitu melihat nasi goreng yang telah terhidang. Mereka tak peduli dari mana asalnya nasi goreng itu, karena mereka betul-betul mendambakan nasi goreng sudah sejak lama. Yang penting sekarang adalah segera menyantapnya.

“Oh ya, kalian bisa pesan minum juga. Mau pesan apa?” Tanya sang pemuda sambil meyodorkan daftar menu. Mereka saling pandang.

“Es teh saja bang, kamu apa Yud?” Randy menanggapi.

“Sama bang, tapi esnya sedikit saja.” Sang pemuda lantas ke belakang membuat pesanan mereka dan tak berapa lama kembali dengan dua gelas es teh di atas baki. Khusus untuk mereka berdua, sang pemuda sendiri yang langsung melayani. Sambil makan sesekali mereka menyeruput es teh di depan mereka. Usai makan tiba-tiba mereka merasa ngantuk, tak pelak mereka langsung tertidur di atas kursi. Awalnya sang pemuda selaku pemilik kedai membiarkan hal tersebut, tapi setelah lama ditunggu mereka tak juga bangun akhirnya sang pemuda mendekati keduanya,

“Bangun, bangun! Kalian belum bayar makanannya!” Hardik sang pemuda kepada Randy dan Yuda sambil menggoyang-goyangkan badan mereka. Tapi mereka tak juga bangun, masih asyik dengan tidurnya. Maka sang pemuda membangunkan mereka sekali lagi dengan goyangan yang lebih keras,

“Bangun woi, udah siang nih! Rand, katanya minta dibangunin jam setengah sebelas, pacarmu seminar jam sebelas kan?” Ujar sang pemuda kepada Randy, kemudian ia ganti membangunkan Yuda.

“Yud, bangun Yud! Hari ini kamu ada kuis di kelas Termodinamika jam sebelas!” Keduanya masih ‘loading’, kemudian serempak bertanya,

“Emang sekarang jam berapa?” masih dengan suara malas dan mulut yang menguap.

“Jam sebelas!”

”Hah!!” tanpa basa-basi keduanya segera bangun. Mereka segera menuju kamar mandi dan menyambar handuk yang kebetulan terjemur di kamar. Usai mandi mereka kamudian melakukan kegiatan masing-masing.

Siangnya bersama teman-teman yang lain mereka makan di sebuah kantin yang terletak persisi di tengah-tengah gedung fakultas mereka. Dengan nada agak berbisik, Yuda bertanya kepada Randy,

“Rand, tadi malam aku bermimipi makan nasi goreng denganmu di Pasar Baru,” Sejenak Rnady tak langsung menanggapi, kemudian berkata,

“Sama, dan kita belum bayar ‘kan?” Keduanya lantas saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.

“Ya udah, ntar malam kita ke Pasar Baru makan nasi goreng. Aku yang traktir deh.” Randy melanjutkan kata-katanya diikuiti tawa terbahak keduanya, teman-teman mereka pun menoleh ke arah mereka. Namun mereka tak mempedulikannya dan tetap melanjutkan tawa mereka.

Ternyata semalam mereka mimpi makan nasi goreng. Itu karena sudah seminggu mereka tak menyantap makanan itu. Maklum selama seminggu belakangan mereka sibuk ke lapangan, tepatnya melakukan pendakian ke puncak Tri Arga–kumpulan gunung yang terdiri dari Gunung Merapi, Singgalang dan Tandikek– bersama teman-teman dari fakultas lain. Dan selama pendakian tersebut mereka tak menjumpai menu nasi goreng yang merupakan makanan favorit mereka. Jadilah selama perjalanan turun dan pulang mereka membicarakan tentang nasi goreng dan ketika sampai di sekretariat mereka, malamnya mereka langsung tertidur pulas karena kecapekan. Saking tak sabarnya ingin segera makan nasi goreng mereka pun membayangkannya di dalam mimpi, menyantap dua piring nasi goreng.

8 thoughts on “Nasi Goreng dan Sepenggal Kisahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s