Coretan tanpa Tinta

Dibandingkan coretan tanganku pada halaman terakhir buku pelajaran matematika bersampul cokelat tua–kadang muda–ketika masih sekolah dasar. Gambar tubuh setengah badan–gambar diriku dan dirinya– yang mungkin tidak layak disebut sebuah gambar, karena yang membedakan laki-laki atau perempuan hanya pada panjang rambut dan pita yang melekat. Cinta monyet? Belum, bahkan itu belum menyerupai cinta. Masih embrio yang belum jelas jenis kelaminnya.

Dibandingkan coretan penaku yang berwarna hitam di atas mejaku sewaktu SMP. Dari Sheila on 7 hingga Linkin Park lengkap dengan judul lagu di bawahnya. Kadang marah jika ada yang menukar mejaku dengan yang lain, ‘itu mejaku!’ teriakku. Padahal jelas-jelas itu punya sekolah, tepatnya pemerintah yang membelikannya. Surat cinta? Aku bahkan tak sadar jika siswi yang baru pindah dari sekolah lain dan duduk berseberangan di kursi sebelahku diam-diam menyukaiku, padahal aku telah ‘menjodohkan’ dia dengan temanku. Alhasil aku hanya terpaku pada nilai ujianku dan maju ke depan ketika upacara penerimaan raport, meski posisiku selalu nomor dua semenjak kedatangannya. Hingga akhirnya penyesalan menghampiri ketika acara perpisahan sekolah, kata-kata itu tertahan di ujung lidahku.

Dibandingkan beberapa tahun yang lalu ketika aku masih menulis di atas kertas putih bergaris hitam, tulisan yang idenya berasal dari seorang gadis yang duduknya beberapa bangku di depanku ketika masih SMA. Seoarang gadis dengan ikat rambut berwarna putih menyerupai bintang laut dan sepatu kets berwarna biru. Cover bagian dalam buku PPKn milikku pun penuh dengan puisi terindah untuknya tanpa dia tahu, itu yang dibaca guruku ketimbang catatan bertema kewarganegaraan yang selalu ditulisnya di papan tulis. Atau ketika aku mulai mengenal si lesung pipit dengan rambut lurusnya yang hitam tergerai. Kirim salam pun tak memuaskanku, hingga akhirnya entah siapa yang lebih dulu memulai kami mulai menulis surat. Dan tentu saja kami sampaikan lewat temannya yang kebetulan satu rumah kost denganku. Aku menyesal, aku bersalah karena fotonya telah ada di dalam dompet temanku bahkan sebelum kami saling sapa. Tapi aku takkan melupakannya.

Dibandingkan itu semua tentunya menulis di blog lebih mudah, tersusun rapi dan bisa dilihat kapanpun kita inginkan. Tanpa takut tulisan tersebut luntur karena air hujan, dijadikan pembungkus cabai atau dibakar–yang tentunya menambah jumlah kadar karbon di atmosfer–karena jumlahnya sudah banyak dan dianggap tak berguna. Ya, hari ini tepat blogku mendapat kunjungan yang ke-1000 dari para neter yang kebetulan singgah, atau sengaja singgah. Terima kasih untuk para pembaca sekalian, terima kasih untuk apresiasi dan kunjungannya.

Dan di saat sudah terlalu banyak ide yang menumpuk di kepala, menulis merupakan ajang yang tepat untuk menumpahkan gagasan yang lama terpendam. Ketika petualangan yang kulalui tanpa cerita, begitu banyak kisah yang bisa dituangkan dan inspirasi yang tanpa batas dari lingkungan sekitar, sekali lagi menulis adalah sebuah terapi untuk membuat pikiran tetap seimbang tanpa melupakan rutinitas harian. Karena menulis adalah sebuah kesenangan, bukannya paksaan yang harus terus dilakukan.
Salam Blogger!

Padang, 26 Februari 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s