Setangkai Edelweis dari Singgalang

Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, tepat mengenai kaca jendela bis yang kutumpangi. Kuarahkan pandanganku ke luar jendela, memandangi hamparan sawah yang sedang menghijau dengan bulir-bulir padinya yang baru tumbuh. Adakalanya kudapati segerombolan anak-anak sedang bermain layangan di tanah lapang yang tepat berada di sisi jalan. Begitu banyak pemandangan kehidupan yang terlukis di mataku sepanjang jalan yang kulalui, meski demikian pikiranku tetap tertuju pada seseorang, wanita yang membuatku datang lagi ke kota ini. Kota yang indah, seolah di setiap jalanan yang aku lalui terpatri kenangan antara aku dan dia. Terlukis abadi meski suasananya telah berubah. Aku tak tahu apakah perasannya telah berubah terhadapku, atau masih berdiri kokoh seperti sebuah tugu yang ada di pusat kota kecil ini.

***

Di bawah tugu ini dulu kau dan aku bersama, duduk tepat di tepi kolam sambil mengunyah kacang rebus. Kau tampak tersedak lalu segera meraih botol air mineral di tanganku dan meneguknya dengan tidak perlahan, kau tersedak lagi. Aku tahu, kau tak terbiasa dengan kacang rebus atau sejenisnya. Tapi aku tak tahu mengapa kau mau memenuhi ajakanku, menghabiskan malam minggu dengan seseorang yang baru kau kenal beberapa minggu lalu. Waktu itu pertama kita bertemu, kampus kita sedang mengadakan seminar tentang Pemanasan Global. Tanpa sengaja kita duduk bersebelahan, kau mewakili teman-temanmu dari unit kegiatan seni sedangkan aku dari organisasi kepecintaalaman. Awalnya kita masih saling diam, hingga akhirnya aku yang membuka percakapan hangat itu. Percakapan kecil tentang perkenalan diri kita masing-masing hingga meluas sampai menanggapi kenaikan harga BBM. Perkenalan itu kita lanjutkan di luar ketika acara usai sebelum seseorang menjemputmu, menghabisi keceriaan kita. Kau melambaikan tangan dan aku hanya tersenyum, tipis. Dan berawal dari hari itu kita mulai sering bertemu, berbagi cerita tentang kehidupan kita. Hingga akhirnya malam ini kuberanikan mengajakmu ke tempat ini. Dan tak terasa malam semakin larut seolah ikut dalam keceriaan kita, aku mengantarmu pulang dan di beranda ayahmu telah menunggu sambil sesekali melirik arloji di tangan kirinya. Kau langsung masuk dan aku segera pamit pada ayahmu meski tak ditanggapinya.

Tak terasa hubungan kita telah menginjak bulan. Aku mulai sering mengajakmu untuk keluar sekedar jalan-jalan atau makan malam, tak mesti menunggu malam minggu. Aku mulai mengajakmu ke tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah kau kunjungi. Aku mengajakmu ke sebuah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu bersama teman-temanku ketika weekend, tebing alam. Tempat kami sering melakukan pemanjatan ketika suntuk dengan perkuliahan yang berada tepat beberapa meter dari bibir pantai. Kau lalu mengeluarkan kameramu, mengabadikan setiap keindahan alam yang tersaji di sini, tebing, pantai dan panorama lainnya. Adakalanya kau arahkan kameramu ke wajahku hingga aku sadar dan menutupinya dengan tanganku, kau lantas meminta salah seorang temanku untuk mengambil gambar kita berdua. Aku tak keberatan.

Kau juga sering memintaku untuk menemanimu melihat acara pameran lomba fotografi yang terkadang kau ikut di dalamnya dan sesekali mengajakku hunting foto di setiap sudut kota ini. Namun ada satu hal yang menyatukan kita, kau dan aku sama-sama suka membaca dan pergi ke toko buku yang terletak di dekat taman kota. Aku hanya sekedar membaca sedangkan kau sering membeli novel romansa dan serial manga. Hampir tiap minggu kita datang ke tempat itu, menghabiskan waktu bersama. Pulangnya kadang-kadang kita langsung ke pantai atau ke tugu di pusat kota sambil mengunyah kacang rebus, cemilan kesukaanku dan sekarang menjadi kesukaan kita.

Yang paling berkesan tentunya ketika aku mengajakmu mendaki Gunung Singgalang. Selama ini kau hanya mendengar cerita saja tentang keindahan gunung-gunung yang pernah aku daki. Namun sepertinya kau hanya terkesan dengan Singgalang. Kau lantas merengek kepadaku agar membawamu ke sana suatu saat nanti. Dan ketika kita telah mendaki kau tampak keletihan, bulir-bulir keringat menetes di pipimu dan aku menyekanya dengan sapu tangan yang selalu kubawa tiap kali aku mendaki gunung. Ketika berada di daerah Cadas–tempat di mana Edelweis tumbuh–aku sempat marah ketika kau menunjukkan setangkai Edelweis kepadaku, kupikir kau memetik bunga itu dari pohonnya tapi ternyata kau memungutnya dari tanah. Kau lantas mengeluarkan kameramu dan mengambil gambar di setiap sudut di tempat ini begitu pun ketika ketika kita telah mencapai Telaga Dewi yang berada di puncak. Bagimu tiap panorama di tempat ini sangat menarik dan indah sehingga sayang jika tidak diabadikan. Meskipun kau satu-satunya perempuan dalam pendakian ini, tetap saja teman-temanku yang memasak dan menyajikan makan malam. Dan meskipun begitu kau makan dengan lahap masakan mereka.

Ketika pulang aku mengantarkanmu ke rumah, seperti dugaanku ayahmu telah menunggu di beranda bersama Ibumu, sementara adikmu hanya melongok dari pintu. Bukan senyuman yang kau dapatkan dari ayahmu, tapi tamparan kecil di pipi kirimu. Aku hanya terdiam menyaksikan itu. Ayahmu memarahimu habis-habisan sementara ibumu segera meraihmu dan membawamu masuk ke dalam rumah. Setelahnya tentu aku yang menjadi luapan kemarahan ayahmu. Kupikir kau telah meminta izin kepada orangtuamu. Aku coba menjelaskan semuanya tapi sepertinya ayahmu tak peduli dan menyuruhku untuk tidak berhubungan lagi denganmu. Apa karena aku anak mapala yang menurut ayahmu tak punya masa depan? Atau karena aku dari keluarga kurang berada meski aku dari kelurga baik-baik? Apapun itu yang jelas ayahmu tak memberi restu atas hubungan kita. Tapi kau tetap memaksakan bertahan dengan hubungan ini karena kau merasa nyaman ketika berada di sampingku. Aku juga tak tahu mengapa kau begitu nyaman di sampingku. Mungkinkah kau bosan berhubungan dengan lelaki sejenis mantan-mantan pacarmu? Yang meski berada di kasta yang sama tapi mereka tak menjalin kejujuran dalam hubungan dan hanya menawarkan cinta yang semu kepadamu. Sementara aku mencoba tulus kepadamu dan tak ada yang coba kututup-tutupi, mungkin itulah yang kau inginkan dan tak kau dapatkan dari mereka. Lagi pula aku juga merasakan damai ketika berada di sisimu.

Begitulah selama ini aku mencoba meyakinkan ayahmu untuk menerimaku, tapi sekeras apapun usahaku tetap tak membuahkan hasil. Bahkan ayahmu sempat memperkenalkan tunanganmu kepadaku ketika suatu hari aku datang ke rumahmu. Entah benar itu tunanganmu atau hanya cara ayahmu agar aku tak lagi berhubungan dengan putrinya.

***

Dan kini aku kembali ke kota ini sembari membawa undangan pernikahan berwarna ungu dengan nama kedua mempelai yang tertera indah di bagian depan. Tampak janur kuning melambai-lambai ditiup angin tepat di pintu gerbang rumahmu. Tak ada perubahan yang mencolok dari suasana rumahmu, masih kujumpai pohon cherry yang tumbuh persis di depan jendela kamarmu dan bunga mawar dengan warna-warninya yang berada di bawahnya yang jumlahnya semakin banyak saja. Masuk ke dalam rumahmu aku masih menjumpai setangkai Bunga Edelweis yang telah kering dan kau bingkai tergantung di dinding bercat putih, aku masih bisa merasakan wanginya. Jika ada temanmu yang bertanya dari mana kau mendapatkan bunga itu kau hanya menjawab,

“Aku mendapatkannya dari Singgalang.”

Dan bila ada temanmu yang berkata bahwa tidak boleh mengambil sesuatu di gunung selain foto, “Aku memungutnya dari tanah, bunga itu seperti melambai kepadaku agar aku membawanya ke rumah,” begitu jawabmu dengan bijak, jawaban yang terkadang membuatku selalu ingin bersamamu dan berharap akulah Edelweis itu.

Kerumunan para tamu semakin ramai saja, aku semakin dekat dengan pelaminan. Dari sini aku bisa melihat kedua mempelai duduk sambil terus tersenyum kepada tamu yang menyalami mereka. Mempelai pria tampak terlihat serasi berdampingan dengan mempelai wanita yang tampak begitu cantik dengan senyumnya yang begitu mempesona. Setelah dekat aku lantas menyalami kedua mempelai yang begitu berbahagia itu. Tiba-tiba kau memelukku, menangis terisak dan aku hanya bisa diam.

***

Setelah sekian lama akhirnya aku kembali lagi ke kota ini, setelah mimipi-mimpi yang dulu sering kuceritakan kepadamu telah terwujud. Aku datang ke kota ini karena undangan yang kau kirim, untuk mengahdiri acara pernikahan adikmu. Adikmu yang dulu selalu menghidangkan minuman ketika aku datang ke rumahmu ketika orang tuamu sedang tidak ada di rumah dan kita tertawa lepas setelahnya. Kujumpai ayah dan ibumu dan aku segera menyalami keduanya dengan senyum ramah penuh keyakinan. Aku tak tahu apakah ayahmu akan tetap merestui hubungan kita setelah semua ini, setelah aku menjadi seseorang yang benar-benar seperti apa yang mereka inginkan.

Aku juga tak tahu pasti mengapa sampai sat ini kau masih sendiri, tapi yang kutahu aku masih mengharapkanmu. Berharap akulah bunga Edelweis itu, meski telah kering dan warnanya telah menjadi kecoklatan tapi tetap menebarkan wangi. Atau mungkin kitalah Edelweis itu, jika setangkai itu belum lengkap bagimu marilah kita ke Singgalang mencari Edelweis bersama lagi…

Padang, 20 Maret 2012

8 thoughts on “Setangkai Edelweis dari Singgalang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s