Catatan dari Puncak Singgalang

Malam semakin pekat mengeliat di sepanjang jalan Padang-Bukittinggi, bergulir perlahan mendekati tengah malam. Jalanan tampak hitam dan kelam, beruntung cuaca cerah malam ini sehingga bulan dan bintang-bintang bisa menerangi jalan yang kami lalui tanpa halangan awan. Ya, malam ini kami sedang dalam perjalanan menuju Gunung Singgalang untuk melakukan pendakian. Tak seperti biasanya, kali ini kami berangkat di malam hari karena beberapa jam sebelumnya harus menghadiri acara pernikahan dari kakak salah seorang teman kami. Sebelumnya, pada sore hari kami berkumpul di sekretariat KCA-LH Rafflesia dan dilanjutkan packing di sekretariat Mapala Svarna Dvipa Ungu. Dalam perjalanan kali ini kami berjumlah 8 orang dengan mengendarai 4 buah sepeda motor secara berpasangan. Beberapa diantara kami merupakan anggota Forkompa-UA (Forum Komunikasi Pencinta Alam Universitas Andalas), yaitu Yosep dari Mapala Svarna Dvipa Ungu (Fakultas Peternakan), Hendra dari KCA-LH Rafflesia (FMIPA), Ucok dari Green Justice (Fakultas Hukum), Ari dari Mapastra (Fakultas Sastra) dan saya sendiri dari Paitua-MTU (Fakultas Teknik). Ditambah Revo dari Mapala Blaise Pascal (Kampus UPI-YPTK) dan dua simpatisan yaitu Siog dan Ihsan. Pendakian ini sendiri kami agendakan sebagai ajang silaturahmi antarsesama penggiat alam bebas (baca: Mapala), selain itu juga untuk menjernihkan pikiran karena selama ini tercurah untuk belajar, membuat tugas dan ujian di bangku perkuliahan. Pendakian kami lakukan pada hari Sabtu-Senin, 21-23 Januari 2012.
Continue reading…

9 thoughts on “Catatan dari Puncak Singgalang

  1. Saya rencana hari sbtu bsok mau mendaki singgalang, dan baru perdana juga .
    Kalau boleh tau apa aja larangan yg gak boleh selama mendaki bro ??
    maklum baru perdana ndaki gunung, Gak tau . hehehe :D

    • Ya seperti biasa aja bro.
      ‘Gak boleh sombong & bicara ‘kotor’. Niatnya dibenerin, misalnya mendaki bukan buat maksiat. Dan tetep jaga kearifan lokal…

      Dilarang ngambil sesuatu kecuali foto.
      ‘Gak boleh ninggalin sesuatu kecuali jejak kaki.
      ‘Gak boleh membunuh kecuali waktu.

  2. Pingback: Gunung Marapi, Pesona Cadas dan Taman Edelweis | langiteduh |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s