Penalti Lampard dan Tiga Angka AS Roma

Malam ini langit mendung dan tak berbintang, nyaris seperti malam sebelumnya. Tapi aku dan teman-teman tetap keluar untuk menyaksikan pertandingan antara Manchester City versus Chelsea di Etihad Stadium. Kita datang berempat mengendarai sepeda motor bebek 4 tak menembus keheningan malam yang seolah ingin segera beranjak terlelap. Ada Warnan, Wempi, Rush dan aku sendiri. Tapi begitu tiba di ‘stadion’ pertandingan ternyata sudah dimulai, kita terlambat sekitar 10 menit saja. Tak apa, bangku masih banyak yang kosong. Kita lantas memilih tempat duduk kosong di tribun dekat lapangan.

“Bang! Minas dua, nasi goreng dua.”

“Telurnya?”

“Mata sapi aja semuanya.” Sambil menunggu pesanan aku menyalakan sebatang Marlboro merah diikuti Warnan, sementara Rush dengan Sampoerna A Mildnya. Wempi? Dia tampak cool dengan Clas Mild. Pertandingan berjalan seru, di awal pertandingan ini City lebih sering menekan tamunya. Sementara Chelsea hanya sesekali membalas lewat serangan baliknya. Makan malam pun tiba, mulut mengunyah dan pandangan mengarah ke sebuah televisi layar datar 29 inchi. Jual beli serangan masih tetap berlangsung dan City masih mendominasi. Babak pertama berakhir tanpa sebiji gol pun, nasi di piring pun sudah habis pula. Pertandingan masih menyisakan 45 menit babak kedua, saatnya menu tambahan di saat jeda.

“Bang, teh telur satu.” Rush mengangkat tangannya memanggil yang empunya kafe.

“Dua bang.” Ujarku menambahkan. Waktu istirahat pertandingan kugunakan untuk mengobrol dengan teman seputar tim kesayangan. Suasana semakin ramai saja, bahkan karena bangku sudah penuh banyak penonton yang berdiri di teras depan. Kafe ini memang sering dijadikan tempat nonton bareng, biasanya selalu ramai kalau ada Big Match. Tempatnya di Kapalo Koto dekat Jamsek. Asyiklah pokoknya, nobar sambil pesen makan dan minum. Kafenya nggak terlalu besar tapi asyik buat tongkrongan karena letaknya dekat jalan.

“Eh, Nasri ke mana ya kok akhir-akhir ini jarang kelihatan?” Aku bertanya kepada teman di belakangku.

“Cedera ya?”

“Nggak tahu, emang nggak dimainkan kali.” Jawabnya enteng. Aku kembali menikmati Marlboro, kali ini dengan seruputan teh telur.

“Musim depan Lampard pindah ya, ke mana dia bakal pergi?” Warnan ikutan nimbrung.

“Belum pasti sih, tapi dengar-dengar Chelsea ogah memperpanjang kontraknya. Sayang, padahal mainnya masih bagus.” Kali ini aku yang menjawab. Pertandingan babak kedua sudah dimulai, kali ini penguasaan bola berimbang. Dan, penalti! Joe Hart melanggar Demba Ba di kotak terlarang. Bola sudah melewati kiper City tersebut dan ia menjatuhkan Demba Ba. Setidaknya itu yang tampak dalam pengamatan wasit meski dalam tayangan ulang tidak ada kontak antara Hart dan Demba Ba. Itu sebuah diving! Penalti diambil oleh Lampard, ia meletakkan bola di titik putih yang hanya berjarak beberapa meter saja dari gawang. Sementara Hart bersiap, tenang di bawah mistar gawang dan konsentrasi penuh. Lampard mengambil ancang-ancang dan menendang bola ke sisi kanan Hart. Dan… Sayang beribu kali sayang, tendangan mendatarnya berhasil ditepis Hart. Ia tertunduk sementara Hart berteriak merayakan keberhasilannya, rekan-rekan Hart pun menghampirinya, merayakan kegagalan Lampard!

“Tulah, jan diving juo. Jaleh aden ndak basalah ma, penalti ndak sah mangko ndak gol. Hebat den kan?” Mungkin begitu gumam Hart dalam hati.

Sial, aku hampir saja bersorak bersama pendukung Chelsea lainnya. Tapi justru pendukung City yang melakukannya, sama seperti Lampard kami tertunduk lesu. But, show must go on. Chelsea coba membalas dan kami tak henti-henti mendukung Si Biru. Zabaleta cs seolah di atas angin, mereka kembali menggempur pertahanan Chelsea yang dikomandoi Gary Cahill dan berhasil membobol gawang Petr Cezh di menit ke-63 lewat aksi brilian Yaya Toure. Tak sampai di situ, beberapa menit menjelang pertandingan usai Cezh harus memungut bola untuk kedua kalinya dari gawang setelah Tevez menggandakan kedudukan lewat sepakan kerasnya. Alhasil kegembiraan City mania berbanding terbalik dengan raut muka para pendukung Chelsea, tak terkecuali aku. Begitu seterusnya hingga pertandingan usai. Setelah membayar makanan di kasir, kita lantas pulang ke rumah. Pastinya dengan perasaan tak puas. Nonton barengnya seru, hasil akhir aja yang nggak mengenakkan. Tak ada yang disalahkan tapi rasanya Lampard harus meminta maaf kepada rekan-rekannya dan tentu kita! Kalau boleh berandai-andai, jika saja penaltinya masuk bisa saja Chelsea yang keluar sebagai pemenang atau setidaknya Benitez membawa pulang satu angka. Tapi bagaimanapun juga pasukan Si Biru telah bermain maksimal, satun-satunya pembenaran yaitu mereka tidak beruntung malam ini. Nggak apa-apa “Super Frank”! Kita tetap mendukung kamu, toh masih ada pertandingan berikutnya. Kalau jodoh gelar juara musim ini juga nggak bakalan ke mana. Be strong, Frank!

Tapi setidaknya kekalahan Chelsea sedikit terobati karena di tempat lain Roma menang atas tuan rumah Atalanta. Skor akhir 2-3, tipis memang tapi nggak masalah yang penting dapat tiga angka. Thanx to Marquinho, Pjanic dan Torosidis. Mari berburu tiga angka di pertandingan selanjutnya!

2 thoughts on “Penalti Lampard dan Tiga Angka AS Roma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s