Optimisme di Pundak Garuda

Setelah sebelumnya Timnas Belanda dan Liverpool FC mengujungi Indonesia dalam tur Asia mereka, kali ini giliran Liverpool yang menjajal kekuatan Timnas Indonesia. Di ketiga pertandingan tersebut Indonesia selalu kalah dari tamu-tamunya. Di pertandingan pertama Indonesia harus menerima kekalahan 0-4 dari Timnas Belanda dan di pertandingan kedua lebih telak, Indonesia harus mengakui keunggulan 0-7 atas Mikel Arteta dkk. Sementara di pertandingan terakhir Indonesia kembali tunduk atas tamunya dengan skor 0-2 lewat gol yang dilesakkan oleh Philippe Coutinho di babak pertama dan gol Raheem Sterling di babak kedua.

Timnas Indonesia, semakin padu di tangan Jacksen F. Tiago (Gambar: tribunnes.com)

Timnas Indonesia, semakin padu di tangan Jacksen F. Tiago (Gambar: tribunnews.com)

Di dua pertandingan awal Indonesia tampak sekali kewalahan mengatasi gempuran lawan-lawannya, kalah penguasaan bola dan kalah stamina. Namun hal itu bisa dimaklumi karena pertama, lawan yang dihadapai adalah tim kelas dunia dengan pengalaman mereka di persepakbolaan Eropa yang memang kualitasnya jauh dari Indonesia, yang kedua tim baru terbentuk di bawah kendali Jacksen F. Tiago. Ketika Belanda dan Arsenal datang dengan kekuatan tim yang komposisinya tak jauh berbeda dengan musim sebelumnya, Indonesia justru harus merangkai dari awal formasi tim yang sempat terbelah akibat dualisme ditubuh PSSI beberapa waktu silam. Jelas Timnas kita butuh waktu untuk beradaptasi.

Nah terlepas dari persoalan adaptasi para pemain di timnas ada satu hal yang menjadi sorotan, yaitu masalah stamina. Di babak pertama Indonesia bisa terlihat mengimbangi permainan lawan namun memasuki babak kedua pemain-pemain Indonesia tampak kedodoran meladeni bola cepat dan serangan balik. Akibatnya Indonesia sering kebobolan di babak kedua terutama di 20 menit terakhir babak kedua. Tengok saja kala Indonesia melawan Belanda ataupun Arsenal, berimbang di babak pertama dan kebobolan banyak di babak kedua.

Namun persoalan stamina perlahan mulai teratasi ketika melawan Liverpool. Ini terlihat dari jumlah gol yang disarangkan Steven Gerrard dkk ke gawang Kurnia Meiga. Bukan hanya masalah stamina, semua lini pun tampak mengalami peningkatan performa. Hal tersebut tak lepas dari keberanian sang pelatih dalam merombak starting line-up tim, banyak pemain baru dicoba oleh Jacksen untuk mendapat kerangka tim terbaik. Yang paling mencolok tentunya lini tengah Indonesia yang kedatangan pemain baru bernama Taufiq. Kemampuannya dalam mengatur lini tengah Indonesia sangat baik dan mampu mengimbangi lini tengah Liverpool yang dikomandoi Gerrard. Alhasil perannya tak tergantikan selama 90 menit pertandingan. Di lini depan kehadiran Titus Bonai seolah membawa angin segar di tim, jika selama ini bola jauh yang bertumpu pada Sergio van Dijk kurang efektif, maka bola daerah untuk Bonai adalah solusi yang tepat karena ia mempunyai kecepatan yang mumpuni ditambah kengototannya dalam berduel dengan lawan. Meski tak mencetak gol pergerakannya acapkali merepotkan barisan pertahanan lawan. Sementara di lini belakang duet M. Roby dan Victor Igbonefo semakin padu saja dengan sokongan dari Kurnia Meiga yang semakin menunjukkan kematangannya.

Ini tentunya menjadi modal baik bagi Timnas Indonesia dalam menghadapi lawan sebenarnya di Laga pra-kualifikasi Piala Asia menghadap China Oktober mendatang. Kematangan dalam bermain ditambah dengan dukungan para suporter yang tiada habisnya, patutlah kiranya kita optimis bahwa Indonesia bisa melangkah jauh di persepakbolaan Asia dan kemudian dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s