Hening

Aku merasa berbeda hari ini, merasa seperti beberapa tahun silam ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Di sebuah bangku taman sekolah di belakang kelas dengan suasana hening. Hanya semilir angin yang sesekali menggoda kami. Ia hanya tersenyum kecil, simpul bibirnya tampak merona. Aku tak berdaya, tak bisa lepas dari senyumnya. Kurasakan keteduhan di hatiku, seteduh pohon mahoni yang sedang memayungi kami saat ini. Tak kurasakan badai, tak kudengar gelegar halilintar, aku hanya mendengar gemericik air sungai yang mengalir jernih. Sekali lagi menyejukkan hatiku.

Dia menoleh kepadaku, masih dengan senyum manisnya seolah manja di mataku. Hembusan angin terasa lebih kencang dari sebelumnya, aku semakin dekat kepadanya. Tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya di bahuku. Kuelus rambutnya, tangan kami pun berpegangan, erat meski tak terikat. Suasana hening seketika, semua berlalu tanpa kata-kata, mungkin hati kami sudah saling percaya. Kami tak beranjak, masih di bangku taman sekolah, berdua, bertiga dengan semilir angin yang perlahan hilang ditelan keheningan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s