Skyscraper, The Return of Me

Kata Skyscraper terdengar penuh semangat dan antusias, tapi The Return of Me agak sedikit epic yang berlebihan memang.

Akhirnya saya kembali. Ya, kembali mantengin nih blog setelah sekian lama gak saya isi. Tentunya ini bukan kisah epic seperti “The Return of The Condor Heroes”-nya Andy Lau atau lagu “Intro” milik Endank Soekamti yang cuma nyanyiin tuh judul sebagai lirik berkepanjangan seperti Melly Goes to School, eh, Goeslaw, di lagu “I just Wanna Say I Love You”.

Banyak kesibukan lain yang membuat saya lama tidak posting. Maklumlah waktu itu statusnya mahasiswa tahun akhir yang mesti ngurusin skripsi, wisuda sampai kesibukan menjadi pengangguran fresh. Di samping juga mood yang belum bisa seperti Dewi Lestari. Tapi seiring tulisan ini saya mencoba aktif kembali, karena bagaimanapun menulis merupakan sebuah terapi untuk ‘menengahi’ kesibukan saya yang lain.

Judul postingan ini meminjam judul lagu dari Demi Lovato, Skyscraper. Hanya saja jika Demi berharap bisa move on atas hubungannya yang kacau, saya berharap setelah ini bisa rutin menulis kembali. Meski sempat ada kekhawatiran postingan ini dibaca sama Demi terus dia menuntut saya atas judul yang sama, tapi tetap saya terusin. Toh siapa saya di mata Demi Lovato?

Road to Sarjana: Temen Baru Gue, Insomnisa

Pagi ini nggak lagi terasa dingin seperti biasanya, padahal biasanya jam segini juga gue makin semangat narik selimut. Mungkin karena semalam gue susah pejamin mata sehingga suhu tubuh gue tetep anget kayak habis minum wedang jahe. Yup, udah beberapa hari terakhir ini bulan juga boleh gue terserang insomnisa. Semacam musibah susah tidur tapi lebih akut karena sekelebat sosok Anisa ex.Chibi yang terus tersenyum di kelopak mata gue, belum lagi Maudy Ayunda nggak henti-hentinya menggoda gue buat nemenin doski menjelang tidurnya. Tewas gue!

Yah, selalu ada seribu alasan buat mahasiswa tahun akhir kayak gue untuk tidak terlelap sebelum midnight. Alasan paling masuk akal apalagi kalau bukan ngerjain skripsi yang udah gue mulai jauh sebelum kampus gue ada. Tapi tetep aja gue kalah sama panitia Piala Dunia 2014 di Brasil yang bisa kelarin stadion-stadion buat hajatan empat tahunan tersebut. Nyesek rasanya, sama kayak Ibrahimovich yang nggak bakalan bisa jualan es cendol di Brasil nanti atau Kaka yang jerseynya jadi rebutan Ramires, Oscar dan Willian. Kalau udah begini mau nggak mau playlist lagu gue terpaksa album jadulnnya ST 12, pudar sudah imej gue sebagai yang disegani di komplek sebagai “Bapaknya Anak Metal”. Tapi kita tetap musti bisa move on dan cari pacar yang baru.

Gara-gara bola. Eh, akibat belum kelar juga kuliah gue, mantan-mantan gue nambah tuh. Ada yang udah pernah gue deketin bahkan yang belum kenal juga banyak. Keburu layu tuh janur kuning nungguin gue dapet toga. Toh jodoh nggak kemana, lagian gue sekarang juga udah berjodoh sama Insomnisa!

Aku Pagi Ini

“Pagi dingin ‘gak ada sinar mentari
Dan langit pun terlihat gelap, mendung datang lagi
Dan aku berdiri diatas gedung yang tinggi
Memangdang ramainya Jakarta menyambut pagi ini…”

Suara Kaka terdengar mengalun pagi ini, seolah ia tahu keadaan di sini tak jauh berbeda dengan Jakarta miliknya saat ia menyanyikan lagu “Jakarta Pagi Ini”. Yah, Padang pagi ini memang suram. Awan gelap masih menyelimuti sebagian penduduknya yang masih tertidur usai sahur pagi ini. Tak ada tanda-tanda cuaca akan cerah, sang mentari seolah putus asa menembus tebalnya awan hitam hingga dingin masih terasa menusuk. Tak ada secangkir kopi atau sebatang rokok yang menemaniku bercengkrama dengan pagi kali ini, aku lantas meraih jaket di sebelahku.

Suasana di dalam pikiranku tak kalah suram, tak jauh berbeda dengan Padang pagi ini. Sayangnya aku hanya ingin mendengarkan Slank pagi ini sehingga tak ada lagu “Hidup adalah Perjuangan” dan “Pupus”. Semoga matahari lekas tiba dan mengakhiri kegelapan ini, jika tidak hari ini aku akan menunggu hingga esok tiba dan mendapati pagiku yang cerah…

Penalti Lampard dan Tiga Angka AS Roma

Malam ini langit mendung dan tak berbintang, nyaris seperti malam sebelumnya. Tapi aku dan teman-teman tetap keluar untuk menyaksikan pertandingan antara Manchester City versus Chelsea di Etihad Stadium. Kita datang berempat mengendarai sepeda motor bebek 4 tak menembus keheningan malam yang seolah ingin segera beranjak terlelap. Ada Warnan, Wempi, Rush dan aku sendiri. Tapi begitu tiba di ‘stadion’ pertandingan ternyata sudah dimulai, kita terlambat sekitar 10 menit saja. Tak apa, bangku masih banyak yang kosong. Kita lantas memilih tempat duduk kosong di tribun dekat lapangan.

Continue reading

Rumahku di Dunia Maya

rantinghijau

Senin sore (28/1/2013) suasana langit tampak meredup setelah seharian memancarkan cahayanya, sepertinya ia mulai kehabisan energi utuk terus berpijar. Beruntung sebentar lagi malam tiba dan menggantikan posisinya. Masih di tempat yang sama, di lantai 2 sebuah rumah berdinding kayu dengan pohon rindang di sekitarnya tempat biasa saya melakukan aktivitas di dunia maya. Ketika membuka ‘rumah’ ketiga dalam hidup saya menjumpai angka 10.000 di beranda. Jika dirupiahkan hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi, atau istilah lainnya ‘uang segitu dapat apa sih?’. Bisa jadi jumlah tersebut sangat besar bagi saudara kita yang kurang beruntung. Tapi apapun itu angka tersebut sangat berarti bagi saya, setidaknya dalam menemani perjalanan ‘karir’ saya di dunia maya. Bukan bermaksud apa-apa, saya menampilkan blog stats hanya sebagai pelengkap widget saja.

Continue reading

Mengejar Moonrise

Malam ini langit tak begitu cerah, sekumpulan awan mendung berkeliaran di antara beberapa bintang. Meski begitu kami tetap keluar rumah, nongkrong bersama sembari menunggu kehadiran Moonrise.

Kami lantas memandang ke salah satu bukit yang ada di belakang rumah. Dimana pada malam sebelumnya Moonrise tampak begitu mempesona bak Mentari yang baru terbit di ufuk timur. Tapi sayang karena langit yang kurang cerah, kehadiran Moonrise terasa tak begitu istimewa.

Berikut adalah gambar Moonrise yang tampak pada malam sebelumnya.