Kita

Aku adalah segumpal awan saat langit cerah
Kamu adalah tetesan hujan saat langit mendung
Kita adalah perasaan yang sedang mencari tempat ‘tuk berteduh…

Advertisements

Menunggu Waktu

Malam berjalan lambat menemani langkah sepiku
pekat menggeliat seolah terlambat waktu
Malam seolah menjadi edelweis abadi,
meski mentari selalu tersenyum saat pagi dan langit tampak indah kala sore
Malam menjadi tempat bersandar, saat semua ragu butuh jawaban

Bukannya menunggu mawar ini layu
aku hanya ingin memastikan ia tumbuh subur di taman yang lain

Malam tak selalu gelap hanya saja pandanganku yang hitam
Sekalipun langit bertabur bintang dan purnama cerah merekah,
aku masih tak yakin bisa melangkah

Aku selalu yakin meski kadang bertanya,
Masih adakah celah pepohonan yang bisa aku sinari?
Masih adakah embun pagi yang bisa kuteguk segarnya?

Hingga akhirnya kubiarkan detik waktu terus melaju
Tak harap menghentikannya,
berharap bisa menikmatinya saat waktu telah lelah…

Aku

Aku di tengah hujan tapi tak bisa merasakan rintiknya
Aku hanya bisa memandang di dalam gelap, pekat
Aku bukan setetes embun pagi di kala kemarau
Aku hanya segumpal awan yang tak pernah menjadi hujan

Bintang Putih

Hei bintang,…
Aku menyapamu, apakah kau mendengarku?
Oh, angin tak menyampaikannya padamu?

Kukirim seikat mawar, juga melati
Tapi aku baru sadar kau telah mempunyai taman penuh wangi bunga

Lalu aku harus memberimu apa?
Hatiku sudah menjadi miliknya
Sebenarnya aku ingin bersamamu di sana
Memandangi kehidupan dari langit tempatmu berada

Tapi kau tahu ‘kan aku tak memiliki sayap
kau tak pernah mengirimkannya kepadaku
Melihatmu saja aku sudah cukup bahagia
Kebahagiaanmu adalah memancarkan cahaya dan aku merasakannya

Teruslah berpijar karena malam belum usai
Teruslah tersenyum dan hamparkan keceriaanmu malam ini
Aku cukup memandangimu dari sini

Kini aku merengkuhmu
Setangkai bintang putih yang dulu melekat di rambutmu
Biarlah langit memilikimu
Tapi yang kutahu kau tak bisa bersinar tanpaku

Lembut

Lembut, sehelai angin menyapa ragaku
tak kusibak, kubiarkan ia terjebak hingga relung jiwaku
sesaat damai kurasa, sesaat kumampu melupakanmu tapi tak lama

Saat ini musim hujan, pepohonan, rumput dan setangkai anggrek menggigil resah
tapi aku selalu merasa hangat, malam menyelimutiku dengan keheningannya
sejenak kelembutanmu tergantikan malam ini

Ingin rasanya malam terus menemani sepiku
ingin selalu damai mesti tanpamu,
menapaki kesunyian tanpa ragu

Sekalipun malam harus berganti hari
meski mentari memuntahkan sinarnya kala pagi,
di celah-celah ranting pohon yang merangas sepi
Aku tak peduli, aku tak mau mengerti
Aku hanya ingin sendiri

Perlahan aku mulai kehilangan arah,
mencoba berdiri di atas sayunya langkah
menatap kenangan yang tertutup maya hingga jengah
secarik cerita yang terus terpatri indah…

“Selembut senyummu di pagi hari
selembut lakumu yang meneduhkan hati
selembut genggaman tanganmu saat kita berbagi
Aku rindu kelembutanmu…”

Inginku

Dalam gelapnya malam, dalam sepinya hati
Kucoba bertahan lewati hari tanpa senyuman
Dan kini semua pergi tinggalkan diriku
Yang semakin hilang dalam kehancuran

Dan kubiarkan semua berlalu pergi
Jauh tenggelam, jauh dariku
Berharap keajaiban menuntun langkahku
Bawaku pergi dari sini

Tapi apa yang telah terjadi,
kusemakin jauh hilang tenggelam…

Kuingin seperti dulu dapatkan semua mimpiku
denganmu, dengannya dan dengan mereka
Semoga ku akan bisa dapatkan semua mimpiku
denganmu, dengannya dan dengan mereka

-Kumpulan kata yang masih tersisa saat SMA-

Tak Ingin Kembali

Di sini kembali kuterjatuh, jatuh dalam pelukan sepi
Merangkak di maya pandangan
menginjak duri menepikan naluri
Namun kutetap lanjutkan perjalanan ini
Hingga akhirnya kuterlelap dalam gelap

Pernah kurasakan bahagia mengelilingi hidupku
Hanya sesaat sebelum aku kembali terlelap dalam gelap

Kutak inginkan seluruh isi dunia, tak bermimpi jadi raja
Kuhanya ingin di taman bunga, menghirup nafasnya
Kuhanya inginkan bunga, setangkai kelopak mawar merah
Kucabut durinya dan kusebarkan wanginya di sepanjang jalan yang kulalui

Terkadang kumenoleh ke belakang
mengais kenangan dan membenamkannya kembali
Aku lelah, aku ingin menepi
Semoga setetes embun redakan dahagaku

Kututup mata-hatiku, rapat tak ingin kubuka
Hingga esok ketika terjaga kubisa melihat mentari pagi
Semoga hari ini awal yang baik