Hening

Aku merasa berbeda hari ini, merasa seperti beberapa tahun silam ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Di sebuah bangku taman sekolah di belakang kelas dengan suasana hening. Hanya semilir angin yang sesekali menggoda kami. Ia hanya tersenyum kecil, simpul bibirnya tampak merona. Aku tak berdaya, tak bisa lepas dari senyumnya. Kurasakan keteduhan di hatiku, seteduh pohon mahoni yang sedang memayungi kami saat ini. Tak kurasakan badai, tak kudengar gelegar halilintar, aku hanya mendengar gemericik air sungai yang mengalir jernih. Sekali lagi menyejukkan hatiku.

Dia menoleh kepadaku, masih dengan senyum manisnya seolah manja di mataku. Hembusan angin terasa lebih kencang dari sebelumnya, aku semakin dekat kepadanya. Tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya di bahuku. Kuelus rambutnya, tangan kami pun berpegangan, erat meski tak terikat. Suasana hening seketika, semua berlalu tanpa kata-kata, mungkin hati kami sudah saling percaya. Kami tak beranjak, masih di bangku taman sekolah, berdua, bertiga dengan semilir angin yang perlahan hilang ditelan keheningan…

Advertisements

Selamanya

Ir, aku merindukanmu malam ini, malam kemarin dan mungkin malam-malam yang akan datang. Apakah kau merasakan hal yang sama? Kurasa sekarang tidak lagi.

Matahari bersinar terlalu cepat berganti bulan di malam hari, daun-daun berguguran berganti musim semi. Begitu cepat waktu berlalu meninggalkan semua kenangan yang pernah kita lalui selama ini, tentu bersama canda-tawa teman kita yang sekarang entah di mana mereka berada. Yang jelas aku tahu kamu masih di hatiku, tak akan kemana-mana.

Ir, jika aku bisa kembali ke masa lalu…
Aku akan memilihmu untuk menemaniku saat ini memilih sepasang cincin di etalase toko di kota kita. Aku akan memilihmu untuk kemudian merapikan dasiku saat aku akan berangkat kerja. Aku akan memilihmu untuk memilih nama depan bagi sepasang anak kita. Yah, hidup memang tentang sebuah pilihan. Tapi sayangnya aku tak pernah punya kesempatan untuk memilihmu.

Bunga bermekaran menambahkan wangi suasana, lalu kau memetiknya saat itu untukku.
Maafkan aku pernah hinggap di bunga lain. Sekarang musim semi dan kau tak di pelukku, aku berharap musim selanjutnya kita bisa bersama apapun itu. Atau jika tidak aku ‘kan menunggumu di musim semi selanjutnya, tidak juga? Aku akan menunggumu selamanya…

Pesan dari Reva

”Aku mau bicara.”

”Ada apa? Sebentar lagi aku pulang, kerinduanmu akan terhapuskan.” Jawabku enteng. Sementara Reva masih diam di seberang sana. Aku tak sabar menanti suara lembutnya.

”Aku rasa kita tak bisa meneruskan hubungan ini.” Senyumku pudar dan suara Reva tak lagi lembut terdengar. Aku menghela nafas panjang, aku berharap Reva sedang mengerjaiku.

Continue reading

Bintang Berwarna

Kulihat ke luar jendela kamarku, bintang-bintang mulai berjalan perlahan menyisir pekatnya taman langit yang berbalut warna hitam. Di antara bintang-bintang itu tampak satu bintang berkilau, meski cahayanya tak seterang yang lainnya tapi aku menganggap istimewa. Bintang tersebut perlahan meninggalkan kumpulan temannya, dia menghampiriku. Aku masih tak bergeming, masih duduk di atas kursi ini sedari tadi. Continue reading