Hening

Aku merasa berbeda hari ini, merasa seperti beberapa tahun silam ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Di sebuah bangku taman sekolah di belakang kelas dengan suasana hening. Hanya semilir angin yang sesekali menggoda kami. Ia hanya tersenyum kecil, simpul bibirnya tampak merona. Aku tak berdaya, tak bisa lepas dari senyumnya. Kurasakan keteduhan di hatiku, seteduh pohon mahoni yang sedang memayungi kami saat ini. Tak kurasakan badai, tak kudengar gelegar halilintar, aku hanya mendengar gemericik air sungai yang mengalir jernih. Sekali lagi menyejukkan hatiku.

Dia menoleh kepadaku, masih dengan senyum manisnya seolah manja di mataku. Hembusan angin terasa lebih kencang dari sebelumnya, aku semakin dekat kepadanya. Tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya di bahuku. Kuelus rambutnya, tangan kami pun berpegangan, erat meski tak terikat. Suasana hening seketika, semua berlalu tanpa kata-kata, mungkin hati kami sudah saling percaya. Kami tak beranjak, masih di bangku taman sekolah, berdua, bertiga dengan semilir angin yang perlahan hilang ditelan keheningan…

Lembut

Lembut, sehelai angin menyapa ragaku
tak kusibak, kubiarkan ia terjebak hingga relung jiwaku
sesaat damai kurasa, sesaat kumampu melupakanmu tapi tak lama

Saat ini musim hujan, pepohonan, rumput dan setangkai anggrek menggigil resah
tapi aku selalu merasa hangat, malam menyelimutiku dengan keheningannya
sejenak kelembutanmu tergantikan malam ini

Ingin rasanya malam terus menemani sepiku
ingin selalu damai mesti tanpamu,
menapaki kesunyian tanpa ragu

Sekalipun malam harus berganti hari
meski mentari memuntahkan sinarnya kala pagi,
di celah-celah ranting pohon yang merangas sepi
Aku tak peduli, aku tak mau mengerti
Aku hanya ingin sendiri

Perlahan aku mulai kehilangan arah,
mencoba berdiri di atas sayunya langkah
menatap kenangan yang tertutup maya hingga jengah
secarik cerita yang terus terpatri indah…

“Selembut senyummu di pagi hari
selembut lakumu yang meneduhkan hati
selembut genggaman tanganmu saat kita berbagi
Aku rindu kelembutanmu…”